GURU AGAMA ISLAM SDN DAN SMPN AKAN DIKURSUSKAN KITAB RISALAH AWAL

KAJEN - Minggu (8/7/2018) malam, Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si menghadiri Halal Bihalal dan Pembukaan Pengajian Rutin Malam Senin Kliwon di Ponpes Miftahul Huda Pesantunan Kelurahan Kedungwuni Barat Kecamatan Kedungwuni.

Pengajian dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyah KH Ahmad Saidi bin KH Said, beserta para kyai lainnya, para santri Ponpes Miftahul Huda Pesantunan Kedungwuni. Serta sekitar 1.500 Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam SDN dan SMPN se Kabupaten Pekalongan.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan pihaknya memang sengaja mengundang para Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Menengah Tingkat Pertama Negeri (SMPN) se Kabupaten Pekalongan. Dikatakannya, hal tersebut sebagai tindaklanjut dari program Hafalan Kitab Risalah Awwal di SDN dan SMPN se Kabupaten Pekalongan.

"Nanti para guru Agama Islam di SDN dan SMPN se Kabupaten Pekalongan diharuskan mengikuti kursus panjang tentang Risalah Awwal sebelum mengajarkannya kepada murid-muridnya di sekolah masing-masing. Jadi nanti para guru agama kita drill dan kita tatar terlebih dahulu," ujar Bupati.

Yang lebih penting lagi, kata Bupati, pihaknya memiliki program penerapan jam belajar bagi masyarakat. "Guna mensukseskan jam belajar masyarakat yang saat ini sudah terbit perdanya, hendaknya masyarakat, terutama para orang tua memperhatikan jam belajar masyarakat, yakni dari habis mahgrib sampai isya dilarang menyalakan televisi, supaya anak lebih konsen untuk belajar dan ngaji," pintanya.

Bupati juga menekankan pentingnya anak untuk membaca Al-Qur’an, selain mengikuti TPQ bagi anak seumuran. Karena para orang tua juga wajib membimbing anaknya untuk membaca Al-Qur’an di rumah setiap hari. Karena ini akan mencetak anak yang pandai mambaca Al-Qur’an di Kabupaten Pekalongan.

"Bukan Cuma tugas kiai dan ustad saja, wajib belajar sembilan tahun, sudah lama jadi program pemerintah wajib belajar sembilan tahun, namun saya akui di beberapa tempat masih ada anak yang putus sekolah, untuk itu saya melarang warga mengajak anaknya yang masih usia sekolah merantau keluar kota apalagi di sana anak disuruh untuk membantu orang tuanya bekerja, seperti jualan tempe atau bekerja di konveksi," terangnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)

Publisher : aris

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…