BUPATI BERSAMA UNSUR MUSPIDA DAN MASYARAKAT MINUM OBAT PENCEGAHAN MASSAL FILARIASIS (KAKI GAJAH)

KAJEN -  Hari ini kita ikhtiar bagaimana Kabupaten Pekalongan tidak lagi menjadi daerah endemik atau tempat suburnya penyakit utamanya adalah penyakit kaki gajah (filariasis). Ini adalah penyakit yang secara medis penyembuhannya lama, kemudian proses terjadinya penyakit juga butuh 5 sampai 10 tahun. Dimana awalnya tidak terasa, yakni ditandai dengan demam tidak turun-turun.

Demikian disampaikan Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si pada acara Pencanangan Minum Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) Tahap 4 Tingkat Kabupaten Pekalongan, di Balai Desa Wonopringgo, Selasa (2/10/2018) siang.

Bupati mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama mengikuti perkembangan tentang filariasis di Kabupaten Pekalongan, termasuk pasien yang sudah diindikasikan menderita penyakit Kaki Gajah. Tetapi apa yang kita lakukan hari ini, kata Bupati, adalah jawaban bahwa kalau Gusti Allah menurunkan penyakit pasti memberikan obatnya dan Pemerintah harus berada di garda terdepan karena Pemerintah mempunyai fungsi sebagai fasilitator dan menciptakan regulasi (regulator).

“Kita dorong seluruh masyarakat untuk sadar dan tahu tentang bagaimana mendeteksi penyakit Kaki Gajah (filariasis). Masyarakat diberikan pemahaman biar melek atau paham dulu. Program itu akan berhasil ketika di tingkat pemahamannya itu bagus,” ujar Bupati.

Dijelaskan Bupati penyakit Kaki Gajah ini adalah salah satu penyakit yang masuk kategori membahayakan. Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk, sehingga tidak mengenal wilayah maupun golongan atau kasta sosial.

“Siapapun dapat terkena penyakit ini. Tetapi kita tidak boleh putus asa apalagi pesimis. Kita berikan pemahaman-pemahaman tentang bagaimana kita menyikapi akan musibah ini kepada keluarga kita semua,” terangnya.

Program Minum Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) menjadi program prioritas nasional. Untuk itu, kita akan bersama-sama berikhtiar dalam melakukan eliminasi filariasis. “Intinya bahwa setelah kita launching bersama, kita semua harus minum obat ini. Bagi masyarakat yang ada di rumah, petugas kesehatan wajib mendatangi mereka untuk diberikan obat. Para pengurus organisasi masyarakat seperti Muslimat NU, Aisyiyah dan lain sebagainya wajib menginformasikan kepada anggotanya,” Harap Bupati.

Bupati mendorong agar seluruh warga masyarakat Kabupaten Pekalongan untuk minum obat filariasis sebagai bentuk ikhtiar. Kepada para kader silahkan menginformasikan kepada seluruh warga. Hal ini agar bulan eliminasi filariasis yang biasanya dimulai bulan Oktober di Kabupaten Pekalongan ini bisa berhasil.

Bupati menuturkan, program ini sejak tahun 2010 dan di Kabupaten Pekalongan ini sudah ditemukan 46 kasus sampai tahun 2018 ini. Untuk itu kita harus memasifkan program ini agar menjadi program yang betul-betul diketahui dan dilaksanakan oleh masyarakat untuk mencegah sekaligus.

Kata Bupati, dari 46 kasus ini terdapat di 9 Kecamatan dan desa endemis. Untuk itu pihaknya minta kita harus serius dan ikhtiarnya harus betul-betul dijalankan. 46 kasus baginya itu terlalu banyak. Satu kasus kaki gajah ini saja, kita bisa membayangkan akan penderitaannya. Oleh karena itu, upaya ini menurutnya sangat luhur yang diikuti oleh para pemangku kepentingan bersama Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk menjadikan wilayah Kabupaten Pekalongan ini betul-betul tereliminasi dari filariasis.

“Ayo sosialisasikan secara masif di balai-balai desa, di pos-pos kesehatan, di sekolah, di posyandu, di forum-forum keagamaan dan seluruh pihak yang bertanggungjawab bahwa ketika kita berikhtiar untuk menyehatkan sesama adalah bagian dari ibadah kita. Agama kita memerintahkan agar kita lebih bermanfaat untuk orang lain,” ajak Bupati.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Kesehatan - Setiawan Dwi Antoro menuturkan pelaksanaan pencanangan minum obat filariasis dimulai tanggal 2 Oktober dan berlangsung selama satu bulan dan dilakukan serentak. Dengan jumlah sasaran 876.427 orang pada rentang usia 2 hingga 70 tahun.

"Jumlah pos minum obat yang disediakan sebanyak 2.300 pos yang tersebar di 285 desa dan sekolah ditingkat PAUD/TK,” katanya.

Menurut Setiawan, ada 46 kasus kaki gajah yang ditemukan di sembilan kecamatan diantaranya kecamatan Wiradesa, Tirto, Buaran, Bojong, Petungkriyono, Kandangserang, Paninggaran, Wonopringgo dan Kedungwuni. "Namun berdasarkan hasil survei darah jadi atau (SDJ) yang dilakukan pada bulan April dan agustus oleh Tim Kementerian RI kabupaten Pekalongan dinyatakan negatif microfilaria," tandasnya.
Sebagai tanda pencanangan pencegahan massal filariasis, dalam kesempatan itu, Bupati bersama unsur Muspida, para Kepala OPD, para Camat serta para tamu undangan dan para pelajar  minum obat  secara bersama-sama. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
 
Publisher : aris
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…