INOVASI LABORATORIUM KEMISKINAN MASUK NOMINASI TOP 99 SINOVIK

KAJEN – Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tingkat Nasional (SINOVIK) Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Kemenpan RB Republik Indonesia memasuki babak baru. Pemkab Pekalongan yang melakukan inovasi melalui Laboratorium Kemiskinan sebagai program unggulan masuk nominator TOP 99. Berbeda dari tahun sebelumnya, kompetisi kali ini  dilakukan secara virtual yang digelar di Kantor Bupati Pekalongan pada siang ini,  Rabu (8/7/2020). Bupati Pekalongan Asip Kholbihi SH.,M.Si menyampaikan hal-hal penting terkait Laboratorium Kemiskinan sebagai program unggulan dalam upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Pekalongan.
 
Dikatakan oleh Bupati Asip, laboratorium kemiskinan merupakan tempat yang digunakan untuk melakukan penelitian, pengelolaan dan inovasi untuk melakukan pengentasan kemiskinan. Dimana menurutnya, masyarakat Kabupaten Pekalongan itu berasal dari beragam topografi wilayah yang berbeda. Sehingga, formula untuk pengentasan kemiskinannya pun berbeda pula. ‘’ Kalau kita baca terminology tentang laboratorium baik di KBBI maupun sumber lainya itu adalah sebuah tempat dimana kita melakukan penelitian, pengelolaan, inovasi dan sekaligus untuk mencari jalan keluarnya. Dan  laboratorium kemiskinan juga menggunakan pendekatan topografi wilayah. Dimana masing-masing topografi wilayah mempunyai penyebab kemiskinan masing-masing. Sehingga formula untuk pengentasan kemiskinannyapun berbeda-beda,’’ Kata Bupati Asip.
 
Bupati melanjutkan, inovasi laboratotium kemiskinan merupakan wujud implementasi pemerintah dalam melakukan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Pekalongan dengan menggunakan basis data terpadu yang valid dan terverifikasi. Dengan adanya laboratoium kemiskinan ini, dijelaskan oleh bupati Asip, bahwa daerah penelitian yang semula berzona merah Covid-19 kini berubah menjadi hijau dan kuning. Sehingga, laboratorium kemiskinan ini akan direplikasi dan dikembangkan lebih baik lagi.
 
‘’ Sebelum ada inovasi ini, daerah yang menjadi objek penelitian kita itu kategorinya adalah  daerah merah berarti tidak boleh masuk dan harus kita pelajari dahulu kalau dari daerah merah Covid-19 . Kemudian setelah ada laboratorium kemiskinan, maka daerah ini menjadi daerah hijau dan kuning. Jadi, saya kira ini inovasi yang bersifat awal dahulu, sehingga pengembangan dan replikasinya akan kita kembangkan dan tingkatkan dikemudian hari,’’ Jelasnya.
 
Adapun untuk kendalanya sendiri, Bupati Asip mengungkapkan bahwa ada kendala internal dan eksternal yang menjadi tantangan dalam menjalankan inovasi laboratorium kemiskinan. Dimana kendala internal berasal dari pihaknya yang bertugas di lapangan dan kendala eksternalnya berasal dari masyarakat yang masih memiliki kesadaran rendah untuk melakukan kegiatan yang dicanangkan pemerintah untuk mengentas kemiskinan. ‘’ Yang pertama adalah masalah dari internal kita. Dimana kawan-kawan yang bertugas disana itu menganggap beban ini melebihi beban pekerjaan. Kendala yang kedua adalah kendala eksternal, dalam hal ini adalah masyarakat yang tingkat kesadaranya masih rendah,’’ Ungkapnya.
 
Dan untuk mengatasi hal tersebut, Bupati Asip mengatakan akan mengembangkan program reward dan punishment kepada pihaknya yang bertugas. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kinerja, sehingga pelayanan kepada masyarakat dalam upaya pengentasan kemiskinan dapat meningkat. ‘’ Pertama, di level organisasi perangkat daerah ini kita kembangkan reward dan punishment ya. Jadi, yang berprestasi akan mendapatkan reward, dan yang kurang berprestasi akan kita pacu terlebih dahulu. Sehingga dapat memberikan pelyanan yang baik kepada masyarakat,’’Kata Bupati Asip. (Lusi Rismawati)
 
Publisher : aris
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…