Admin
Rabu, 2 September 2026


TALUN – Simpan potensi ekonomi besar, Kopi dari Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, butuh dukungan pemasaran lebih luas.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam penutupan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi Robusta Berketahanan Iklim Pekalongan di Gedung Pertemuan Muhammadiyah Talun, Rabu (2/9/2026).
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan H. Sukirman yang menutup kegiatan tersebut, mendorong agar kopi Talun tidak hanya berhenti sebagai komoditas pertanian lokal. Produk kopi dari daerah tersebut harus didorong masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk kafe, restoran, hingga jaringan pasar komersial.
Sukirman mengakui Kabupaten Pekalongan memiliki potensi pertanian yang besar, termasuk kopi. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terangkat karena persoalan pemasaran dan pengenalan produk.
Ia mencontohkan kopi Petungkriyono yang dinilai memiliki daya saing, tetapi belum banyak dikenal oleh pelaku usaha kopi.
“Yang harus kita benahi adalah pendampingan dari sisi penetrasi pemasaran. Kita perlu mensosialisasikan bahwa Pekalongan ini kopinya juga bisa diandalkan,” kata Sukirman.
Menurutnya, persoalan kopi bukan semata bagaimana meningkatkan produksi. Tanpa pasar yang jelas, peningkatan produksi justru tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat rantai usaha kopi, mulai dari budidaya, peningkatan kualitas, pembiayaan, hingga pemasaran.
Bukan Sekadar Sekolah, Petani Dituntut Praktik
SLI Kopi Robusta tersebut diikuti petani dari Desa Jolotigo dan Desa Sengare, Kecamatan Talun. Program mengusung tema “Sinergi Ketahanan Iklim & Pemberdayaan Ekonomi”.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan petani menghadapi perubahan dan cuaca ekstrem, sekaligus meningkatkan produktivitas melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Sukirman meminta hasil pembelajaran tidak berhenti sebagai teori di ruang pelatihan.
Pengetahuan mengenai kondisi iklim, waktu tanam, pemeliharaan tanaman hingga masa panen harus diterapkan langsung di kebun.
“Bekal yang sudah didapat dari sekolah ini kita praktikkan bersama di lapangan. Dengan adaptasi dan penyesuaian keadaan, saya yakin teori-teori itu bisa dimaksimalkan dalam pengembangan budidaya kopi,” ujarnya.
Dalam penutupan tersebut, Sukirman menyerahkan sertifikat kelulusan SLI secara simbolis kepada perwakilan petani pionir dari Desa Sengare dan Jolotigo.
Dokumen Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan Modul SLI dari Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) juga diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
Perwakilan Mercy Corps, Arif Ganda Purnamawa, menegaskan program tersebut tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan petani.
Program Zurich Climate Resilience Alliance di Kabupaten Pekalongan juga diarahkan untuk menghubungkan komoditas kopi dengan pasar, informasi iklim, praktik pertanian yang baik, serta perlindungan risiko finansial.
“Kami sedang berupaya bagaimana caranya supaya kopi ini bisa terkoneksi dengan pasar yang lebih besar,” kata Arif.
Menurutnya, akses terhadap data iklim menjadi bagian penting, Informasi mengenai potensi kekeringan dan curah hujan ekstrem dapat digunakan petani sebagai dasar menentukan strategi pengelolaan tanaman.
Program juga diarahkan pada pengembangan skema finansial dan kemitraan pasar.
Arif menegaskan, penutupan SLI justru menjadi awal dari pekerjaan berikutnya.
“Kami harapkan ini bukan akhir dari sebuah proses, melainkan ini awal. Kita akan menginisiasi bagaimana pasar itu kita ekspansi dan skema-skema finansial yang akan kita kembangkan juga dapat diterapkan,” ujarnya.
Persoalan pemasaran bahkan diakui secara terbuka oleh Camat Talun Argo Yudha Ismoyo,
Menurutnya Talun sebenarnya memiliki banyak komoditas unggulan. Seperti Pisang, kopi, durian hingga alpukat tersedia. Namun, persoalannya adalah bagaimana produk-produk tersebut bisa bertemu dengan konsumen.
“Hasil bumi Talun itu semua punya, Pak. Pisang, kopi, durian, alpukat, semua ada. Sayangnya enggak punya pasar. Jadi orang tidak tahu kalau barangnya dari Talun,” ungkap Argo.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan produk pertanian Talun bukan semata soal produksi, melainkan juga branding, promosi, akses pasar, dan koneksi dengan pembeli akhir.
Jika persoalan tersebut tidak segera diatasi, potensi komoditas unggulan daerah berisiko hanya berputar di pasar lokal dengan nilai tambah yang terbatas.
Karena itu, pengembangan kopi Talun membutuhkan ekosistem yang lebih lengkap. Petani tidak cukup hanya dibekali teknik budidaya, tetapi juga perlu mendapatkan akses terhadap pembiayaan, informasi pasar, standar mutu, pengolahan pascapanen, branding, dan jaringan pembeli.
Dorong Regenerasi Petani
Sukirman juga mengingatkan pentingnya regenerasi petani kopi.
Menurutnya, anak-anak muda di Talun perlu diperkenalkan dengan budidaya kopi sejak dini. Pendidikan formal tetap penting, tetapi pengetahuan mengenai potensi ekonomi lokal juga harus diwariskan agar keberlanjutan komoditas kopi tidak terputus.
“Pengenalan terhadap budidaya kopi ini menjadi satu kewajiban kita bersama agar kesinambungan pemberdayaan kopi di Kecamatan Talun bisa terus terjaga dengan baik,” jelasnya.
Bantu kami meningkatkan kualitas Website Resmi Kabupaten Pekalongan dengan mengisi survei singkat (±1 menit).