Admin
Kamis, 24 September 2026


KAJEN - Musim kemarau yang berlangsung sejak Juli mulai berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Pekalongan. Hingga Kamis (24/9/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mencatat sebanyak 18 desa di 10 kecamatan mengalami kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan Agus Pranoto, S.H., M.H., mengatakan, kondisi tersebut membuat BPBD mulai melakukan dropping air bersih sejak 16 Juli 2026, yang diawali di Desa Sragi.
“Berdasarkan data yang masuk, saat ini ada 18 desa di 10 kecamatan yang mengalami kekeringan. Total air bersih yang sudah kami distribusikan mencapai 1.434.000 liter untuk 18.149 warga terdampak,” kata Agus.
Menurutnya, dropping air bersih dilakukan berdasarkan permohonan dari wilayah yang membutuhkan. Sebelumnya, BPBD melakukan pemetaan dan assessment untuk memastikan kondisi kekeringan sekaligus menentukan lokasi penempatan torn atau tangki air agar mudah dijangkau masyarakat.
Selain permohonan dari pemerintah desa, BPBD juga melayani kebutuhan air bersih dari sejumlah sekolah dan pondok pesantren.
Dalam pelaksanaannya, BPBD mengandalkan satu armada milik sendiri, dibantu armada yang dipinjam dari Dinas Pekerjaan Umum serta dukungan PMI. Dengan tiga armada tersebut, rata-rata sekitar 10 tangki air didistribusikan setiap hari.
Setiap tangki berkapasitas 4.000 liter. Artinya, dalam sehari sekitar 40.000 liter air dapat didistribusikan. BPBD pernah melakukan dropping hingga 16 tangki dalam sehari, tetapi pengiriman bisa berlangsung sampai malam.
Untuk menjaga kondisi armada, saat ini penggunaannya dibatasi sekitar tiga sampai empat tangki untuk setiap armada per hari.
Agus menambahkan, Polres Pekalongan dan PMI yang turut melakukan dropping air juga berkoordinasi dengan BPBD, termasuk terkait penggunaan armada tangki.
Untuk memenuhi kebutuhan air, BPBD membeli air dari PDAM sebelum kemudian didistribusikan kepada masyarakat. Berbeda dengan sejumlah daerah yang telah memiliki sumur dalam, Kabupaten Pekalongan saat ini masih mengandalkan pasokan dari PDAM.
Di sisi lain, BPBD mengingatkan masyarakat agar mewaspadai risiko kebakaran selama musim kemarau. Sepanjang September 2026, tercatat lebih dari 30 kejadian kebakaran. Agus menyebut sebagian kejadian diduga berkaitan dengan kelalaian, seperti aktivitas membakar sampah yang tidak terkendali.
“Masyarakat kami imbau tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Untuk penggunaan air bersih juga mohon dihemat karena kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung sampai sekitar Oktober,” ujarnya.
Berdasarkan informasi BMKG yang diterima BPBD, musim hujan secara nasional diperkirakan mulai November. Sementara untuk Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Pekalongan, hujan diperkirakan mulai turun sekitar pertengahan Oktober meskipun intensitasnya masih terbatas.
BPBD berharap masyarakat dapat bersama-sama menghadapi musim kekeringan dengan bijak, menghemat air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hingga musim hujan tiba.
Bantu kami meningkatkan kualitas Website Resmi Kabupaten Pekalongan dengan mengisi survei singkat (±1 menit).