Admin
Jumat, 18 Oktober 2019


KAJEN – Kota Bekasi studi tiru pengelolaan sampah di Kabupaten Pekalongan yang menggunakan aplikasi berbasis android. Wali Kota Bekasi Dr. H. Rahmat Effendi memimpin langsung rombongan studi tiru tersebut dan diterima Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH, M.Si beserta jajaran di Rumah Dinas Bupati, Jum’at (18/10/2019) pagi.
Wali Kota Bekasi, dalam prolognya memaparkan, jumlah sampah di Kota Bekasi 1.800 ton per hari. Pihaknya ingin mengurangi jumlah sampah tersebut. Oleh karena itu, pihaknya melakukan studi banding ke Kabupaten Pekalongan untuk mengetahui sistem pengolahan sampah yang ada di Kabupaten Pekalongan seperti apa.
“Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan Bupati Pekalongan ini bisa kita jadikan studi tiru dan menjadi sebuah percontohan bagi daerah lainnya di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Walikota Rahmat Efendi.
Walikota Bekasi berkunjung ke Kabupaten Pekalongan bersama Sekda dan jajarannya serta pengelola bank sampah. “Kami juga bawa Bank Sampah Induk untuk nanti tingkat RW, Kelurahan dan Kecamatan yang akan mengaplikasikannya di wilayah kami, sesuai dengan apa yang ingin kita dapat dari Kabupaten Pekalongan ini,” tutur Walikota.
Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH, M.Si dalam penerimaan rombongan Walikota Bekasi dan jajarannya mengucapkan terima kasih atas kunjungan Wali Kota Bekasi dan rombongan. “Silaturahmi penting agar kita bisa membangun dan melayani masyarakat dengan cepat,” ungkap Bupati.
Terkait pengelolaan sampah di wilayahnya antara lain akan dilakukan dengan menggunakan aplikasi berbasis android. “Ini diinisiasi oleh kawan-kawan saya yang juga sudah punya pengalaman secara offline selama sepuluh tahun di Kabupaten Pekalongan,” tutur Bupati Asip Kholbihi.
Lebih lanjut bupati menjelaskan, saat ini dalam tahap sosialisasi. “Dan beberapa sudah kita komunikasikan dan mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Kabupaten Pekalongan,” imbuh Bupati.
Produksi sampah di wilayah Kabupaten Pekalongan, disebutkan bupati, sebanyak 356 ton per hari. “Walaupun ini bisa dikatakan tidak banyak, namun menjadi tantangan yang berat, sehingga muncullah inisiasi, bagaimana agar sampah ini memiliki nilai ekonomi dan dipilah sesuai dengan jenisnya,” ujar Bupati.
Pengelolaan lingkungan yang dilakukan Bupati Asip Kholbihi dilatarbelakangi predikat sebagai daerah terkumuh yang pernah disematkan pada Kabupaten Pekalongan pada tahun 2014. Oleh karena itu, sejak dilantik pada Juni 2016, bupati merasa harus melakukan langkah-langkah yang taktis, strategis dan cepat, tak terkecuali untuk menanggulangi kekumuhan.
“Ada kolaborasi, sinergi dengan berbagai pihak, sehingga pada tahun 2017, akhirnya kami mendapatkan penghargaan Adipura kota Kecil . Selain itu, pada tahun 2018, juga mendapatkan penghargaan Juara 2 dari Lomba Habitat. Tahun 2019, Juara III Lomba Habitat. Itulah penghargaan yang berkaitan erat dengan manajemen pengelolaan lingkungan ini kita dorong ke arah yang lebih ideal,” papar Bupati.
Salah satu inisiator aplikasi pengelolaan sampah di Kabupaten Pekalongan berbasis android, Wijanarko, mengatakan, pihaknya menamai aplikasi tersebut dengan Yo Waste. Sasaran aplikasi tersebut adalah kaum ibu. Aplikasi ini sudah diluncurkan Bupati Pekalongan pada tanggal 4 Oktober 2019 lalu & sudah disosialisasikan di tiga kecamatan.
Menurut Wijanarko, dari 70 persen sampah di Indonesia, 60 persennya dihasilkan dari rumah tangga. “Produsennya Ibu-ibu. Oleh karena itu, sasaran dari Yo Waste adalah ibu-ibu,” terang Wijan, sapaan akrab Wijanarko.
Menurutnya, sosialisasi mengenai aplikasi ini akan dilakukan beberapa kali. Pihaknya meyakini jika di Pekalongan sukses, di Bekasi juga akan sukses, karena wilayah perkotaan biasanya penyerapan penggunaan aplikasi lebih cepat.
Aplikasi Yo Waste
Mengenai cara penggunaan aplikasinya, Wijanarko, menjelaskan, pertama, warga bisa install atau mendownload aplikasi Yo Waste. Setelah diinstall, nanti akan ada dua menu, yang pertama yakni Yo Waste Sampah.
“Jika sampah rumah tangga penuh, klik tombol tersebut dan Yo Waste Poin akan datang untuk mengambil, sebelum dibawa, di rumah itu juga ditimbang dan diberi nama, difoto dan dikirim ke Classing Point terdekat. Setelah difoto, diverifikasi, misalnya dapat 10 kg, langsung dikonversi dalam bentuk uang, langsung masuk saldo di aplikasi Yo-Waste kita,” jelas Wijan.
Di samping reward dalam bentuk uang, pengguna aplikasi juga akan mendapatkan reward lainnya berupa konsultasi kesehatan gratis selama 24 jam pada menu yang dinamai Yo Waste Sehat.
Menu lainnya yakni Yo Waste PPOB. Dengan saldo yang ada di aplikasi Yo Waste, pengguna aplikasi bisa isi pulsa listrik maupun pulsa handphone dan kuota internet, membayar BPJS dan angsuran pembiayaan sejumlah leasing yang sudah kerja sama dengan Yo Waste.
“Ternyata dari mengumpulkan sampah, kita mendapatkan reward berupa uang dan konsultasi kesehatan, PPOB dan lain-lain. Nantinya bisa terakses di Puskesmas dan apotek serta dokter-dokter di Pekalongan. ‘Kita akan membangun karakter Ibu-ibu Kabupaten Pekalongan agar peduli dengan sampah,” ujar Wijanarko.
Menurut Wijan, aplikasi ini sangat simpel dan mudah serta gratis. Dari aplikasi tersebut, dinilai akan terjadi manajemen sampah yang sangat masif di setiap rumah tangga, sehingga ada dampak lingkungan dan sosial serta kesehatan yang bisa kita manfaatkan.
Penciptaan aplikasi ini dilatarbelakangi keprihatinan pihaknya dengan predikat Indonesia sebagai penghasil sampah terbesar ke-2 setelah Cina, yakni sebesar 600 juta ton per tahun dengan 70%nya berupa sampah plastik yang 60%nya besar berasal dari rumah tangga.
“Sampah non organik tidak terurai, perlu kita pikirkan, dengan tidak dibakar tapi agar mempunyai nilai lebih,” pungkasnya.(red)
Publisher : aris