Admin
Selasa, 22 September 2020


KAJEN - Mengisi pengajian warga Muhammadiyah Kedungwuni di masjid Al Huda Gembong Barat Kecamatan Kedungwuni pagi ini, Selasa (22/09), Bupati Pekalongan Asip Kholbihi SH.,M.Si menerangkan tentang 5 (lima) golongan yang bisa menghantarkan umat manusia menuju keselamatan dunia akherat dalam konteks keilmuan. Pertama, menjadi orang alim, seperti ulama, kyai atau para pengajar (guru). Golongan ini jumlahnya sangat sedikit. Posisi yang kedua adalah menjadi muta’alimah ( orang yang ngaji /belajar), orang yang terus menerus melakukan kajian berkaitan dengan bagaimana pendalaman, tanggungjawab secara individu terhadap pelaksanaan syariat Islam. Kalau orang alim dituntut aktif menyebarkan ilmunya, tapi kalau posisi sebagai murid, menurut Bupati, maka yang paling penting adalah tanggung jawab dirinya. Posisi yang paling moderat adalah menjadi muta’alimah (ngaji). Golongan yang ketiga adalah orang yang mendengarkan (pengajian).
“ Masih ada lagi, derajat yang keempat yang juga merupakan bagian dari upaya kita mencari keselamatan dunia akherat dalam konteks keilmuan yaitu mencintai. Ini bisa diartikan sebagai orang yang memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kajian-kajian keIslaman baik secara sarana maupun prasarana, “ lanjutnya.
Yang tidak boleh adalah posisi pada golongan kelima, yaitu tidak alim, tidak belajar (ngaji) juga tidak mendengarkan , dan sama sekali tidak peduli dengan pengembangan pendidikan Islam, maka pososi golongan ini termasuk orang yang celaka.
Selanjutnya Bupati menuturkan persarikatan Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa kita tidak boleh hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri tapi hidup kita semata mata didedikasikan untuk kepentingan umat Islam menuju kemaslahatan baik di dunia maupun di akherat. Salah satu hal prinsip yang dipedomani persarikatan Muhammadiyah adalah selalu berpikir rasional di dalam setiap tindakan.
“ Dalam konteks apapun, warga Muhammadiyah selalu memadukan antara rasionalitas dalil aqli dan naqli. Kekuatan pendekatan inilah saya kira yang menjadikan organisasi ini berkembang terus, tidak hanya persoalan yang menyangkut masalah keagamaan, tapi masalah-masalah sosial, pengembangan-pengembangan lembaga pendidikan, kesehatan, dan lembaga-lembaga sosial yang lain berkembang sangat luar biasa, “ ungkapnya.
Dikatakan, Persarikatan Muhammadiyah telah melakukan pendekatan dakwah kulturan seperti pengajian-pengajian, pondok pesantren, telaah-telaah keilmuan, hal-hal yang menyangkut pendalaman forum syariah sudah dilakukan sejak awal bahkan sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
Kemudian yang tak kalah penting, kekuatan dakwah kultural harus di dukung/disinergikan dengan kekuatan dakwah struktural , yakni dakwah yang dilakukan oleh pemerintah atau oleh sebagian orang yg menentukan kebijakan agar penentuan kebijakannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah. Karena prinsip, pemerintah dan agama adalah saudara kembar yang tidak terpisahkan.
Kuatnya sebuah dakwah Islamiyah sangat tergantung dair kuatnya komitmen dakwah struktural yang dilakukan oleh pemerintah. “ Sekali lagi bahwa kita memproporsionalisasi bahwa konteks pemerintah adalah menguatkan dakwah kultural yang sudah dilakukan jauh sebelum entitas pemerintah, “ tandasnya.
Ditambahkan pula fungsi pemerintah adalah menjadi pelindung bagi berkembangnya dakwah Islam di Indonesia. Karena agama adalah sesuatu yang bersifat suci , wahyu. Sedangkan Pemerintah berfungsi menjadi penjaga dari agama agar berkembang diikuti oleh umatnya dengan perasaan aman dan damai, tentu juga dengan kondisi aman dan stabil sehingga dakwah bisa berkembang dengan baik ( Ar-Kominfo )
Publisher : aris