KAJEN - Kirab Budaya Mapanji Cempaluk dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-397 dengan tema Wahyu Tumurun dilaksanakan dengan rute start dari Kecamatan Kedungwuni, Wonopringgo, Karanganyar, Kulu, Pasar Kajen, Sibedug dan berakhir di Rumah Dinas Bupati, Minggu (25/8/2019).
Dalam kirab budaya ini ada beberapa tahapan prosesi yang menggambarkan sejarah asal mula terbentuknya Kabupaten Pekalongan beserta doa, harapan dan cita-cita bagi Kabupaten Pekalongan yang disajikan secara simbolik dengan maksud dan tujuan yang mengandung makna filosofis tertentu.
Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si menerangkan bahwa dalam kirab budaya kali ini berharap agar keberkahan, kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, keamanan segera turun di Kabupaten Pekalongan dalam tempo yang tidak terlalu lama.
"Insya Allah akan segera kita wujudkan dengan sengkuyung yang sesuai dengan tema hari jadi yaitu Kabupaten Pekalongan Sengkuyung," ucap Bupati.
Semua warga Kabupaten Pekalongan agar selalu sengkuyung demi membangun Kabupaten Pekalongan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Membangun karakter kebudayaan dengan kirab budaya Mapanji Cempaluk.
"Semoga membawa barokah kepada kita semua dan berdoa kepada Allah SWT agar Kabupaten Pekalongan semakin sejahtera, makmur, pemimpinnya makin melayani rakyatnya. Ini yang paling penting," harap Bupati Asip.
Sementara itu Ketua Sementara DRPD kabupaten Pekalongan, Hj. Hindun menambahkan jika beliau sangat terkesan dan mengapresiasi dengan kirab budaya ini, sebagai bentuk kebudayaan yang harus dilestarikan.
"Kajen hari ini sangat meriah, aman dan damai dan mudah-mudahan rakyatnya semakin sejahtera, makmur," ujar Hindun.
Kirab budaya ini sangat meriah, perlu dilestarikan. Ini juga sebagai bentuk rasa syukur kita dan rasa terima kasih kepada para pendahulu kita yang sudah membangun Kabupaten Pekalongan.
"Saya sangat senang sekali bisa mengikuti acara kirab budaya ini, walaupun ternyata capek sekali," tandasnya. (didik /dinkominfo kab.pekalongan)
KAJEN - Pemkab Pekalongan menggelar Pegelaran Wayang Kulit dan Pesta Kembang Api sebagai penanda puncak dalam acara Resepsi Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-397 di Halaman Parkir Pendopo Kabupaten Pekalongan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Minggu (25/8/2019) malam.
KAJEN - Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-397 dimaknai sebagai ajang untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukan dan membangun cita-cita idealitas tatanan masyarakat.
KAJEN – Untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik, yaitu yang transparan, efektif, efisien, dan akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan, pemerintah kabupaten Pekalongan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengembangan meluncurkan Aplikasi Simaurembug (Sistem Informasi Masyarakat Urun Rembug) yang merupakan salah satu output dari pelaksanaan proyek perubahan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah oleh Endang SR Juwaningsih, S.Psi.,M.Si. Kasubbid Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan Kinerja Pembangunan Bappeda Litbang.
Sambutan dan Launching aplikasi Simaurembug dibuka oleh Fery Irawan, ST.,MT, Kepala Bidang Program dan Monev Pembangunan Bappeda Litbang pada tanggal 22 Agustus 2019 bertempat di Aula lantai 2 Bappeda Litbang Kabupaten Pekalongan, dihadiri oleh Perangkat daerah, Perwakilan BPD dari beberapa desa, karang taruna, forum anak, dewan kesenian daerah, dewan pendidikan, LSM, KADIN, Gapensi, dan LPPM Politeknik Muhamadiyah Kajen. Pada acara peluncuran aplikasi tersebut juga ada pengisian materi Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Teknologi Informasi dari Dinas Komunikasi dan Informatika dan materi Teknik Pengisian Aplikasi Simaurembug dari Bappeda Litbang Kabupaten Pekalongan. Pada acara launching banyak peserta yang menyambut dengan interes / antusias dengan mengajukan banyak pertanyaan.
Selama ini partisipasi publik dalam pembangunan di Kabupaten Pekalongan masih terbatas pada ranah perencanaan, sedangkan dalam ranah implementasi program pembangunan partisipasi masyarakat masih sangat minim. Ketiadaan ruang publik untuk berkomunikasi dua arah menyebabkan belum ada feed back dari masyarakat, sehingga pengawasan terhadap implementasi kebijakan maupun konfirmasi atas klaim kinerja pemerintah oleh masyarakat belum optimal.
KAJEN - Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-397 tahun 2019, jajaran Pemkab Pekalongan melakukan ziarah ke makam para Bupati pendahulu, salah satunya yakni ke makam Bupati pertama yaitu Pangeran Mandurorejo yang dimakamkan di Kaliwungu Kabupaten Kendal, Jumat (23/8/2019).
KAJEN - Rencana pembangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Kabupaten Pekalongan memasuki babak baru. Hal ini terungkap dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Pekalongan dengan Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Tengah tentang relokasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A di Kabupaten Pekalongan.
KAJEN - Sebanyak 150 grup drumband yang terdiri dari 55 grup drumband TK/RA, 70 grup SD/MI dan 25 grup dari SMP/MTs, dengan antusias mengikuti Kajen Gemuruh Ke-6 Tahun 2019 dari awal hingga akhir waktu pelaksanaan di Alun-Alun Kajen, Selasa (20/8/2019) siang.
Dengan dipandu oleh seorang Mayoret utama, mereka secara bersama-sama melantunkan lagu-lagu nasional yakni Garuda Pancasila, Hari Merdeka dan Maju Tak Gentar. Disaksikan ribuan warga masyarakat Kajen dan sekitarnya yang memadati Alun-Alun Kajen.
KAJEN – Pembangunan di Kabupaten Pekalongan tidak hanya membangun fisiknya tapi juga pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berbasis nilai-nilai seni dan budaya.
KAJEN - Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan diskriminasi perbedaan melalui SARA karena semua adalah makhluk ciptaan Allah SWT.
Demikian disampaikannya dalam Acara Malam Keakraban Paguyuban Ibu-Ibu Kedungwuni dengan tema “Merajut Persahabatan Dalam Membina Kebhinekaan” di Gedung eks Kawedanan Kedungwuni, Minggu (18/8/2019) malam.
Pentas wayang kulit dengan dalang Ki Cahyo Kuntadi dari Surakarta dan Bintang tamunya yaitu Ustadzah Hj. Kharida Yogi Nomara Abrory. Kemudian untuk pentas wayang kulit mengangkat cerita tentang Bima Gugah. Tentunya ini sangat mendidik dan masyarakat sangat antusias sekali untuk menyaksikan.
Dalam acara resepsi, Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si didampingi Waki Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti menyerahkan penghargaan kepada para tokoh inspiratif dan pemenang lomba-lomba, serta sekaligus secara simbolis menyerahkan sebuah wayang kepada dalang sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang kulit.
Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si menerangkan bahwa Kabupaten Pekalongan ini sudah cukup tua karena sudah berumur 397 tahun. Selain itu pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga masyarakat Kabupaten Pekalongan yang sudah Sengkuyung bersama dalam pembangunan di Kabupaten Pekalongan.
"Dalam membangun Kabupaten Pekalongan ini tentunya telah menghadapi berbagai rintangan dan tantangan. Tetapi demi mewujudkan cita-cita luhur tentunya semua akan dilalui agar terwujud untuk mensejahterakan masyarakat," kata Bupati.
Setiap peringatan Hari jadi Kabupaten Pekalongan ini ada berbagai kegiatan seperti Kilau Raya, Pekan Raya Kajen (PRK), Mlaku-mlaku bareng Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan dengan hadiah Rumah, Umroh, Motor dan berbagai hadiah yang lain.
"Ini merupakan rangkaian hari jadi dan mudah-mudahan berjalan dengan baik," ujar Bupati Asip.
Dengan adanya acara seperti ini, masyarakat mendapatkan hiburan dan suasana tambah rukun dan guyub ditengah situasi nasional yang membutuhkan perekat sosial. Solidaritas sosial ini harus kita perekat dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
"Contohnya momentum hari jadi ini kita gunakan sebagai alat untuk mengikat solidaritas dengan berbagai kegiatan seni budaya, olahraga dan bentuk yang lain. Saya kira ini sangat penting," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Kabupaten Pekalongan Dra. Hj. Hindun, MH menambahkan agar selalu mengenang tentang sejarah berdirinya Kabupaten Pekalongan sampai dengan sekarang. "Kita perlu bersyukur pada para pendahulu dan juga kepada Allah SWT," kata Hindun.
Mudah-mudahan dengan adanya resepsi ini bisa memberikan satu bentuk intropeksi diri untuk Kabupaten Pekalongan dalam rangka melangkah ke depan agar lebih baik. "Saya kira ini perlu menjadi renungan sehingga nanti pembangunan akan berjalan dengan baik," terangnya.
Kita sudah melihat beberapa capaian prestasi yang dilakukan oleh Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si dan para jajarannya baik di bidang infrastruktur, pendidikan, kesehatan, sosial budaya yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan.
"Saya ucapkan selamat Dirgahayu Kabupaten Pekalongan ke-397. Sejahtera rakyat kita, makmur dan adil serta pelayanan untuk masyarakat bisa lebih baik lagi," tutupnya.(didik /dinkominfo kab.pekalongan).
"Tatanan idealitas mewujudkan masyarakat yang sejahtera lahir batin, masyarakat yang menjungjung tinggi nilai-nilai lokalitas dan menghargai prinsip-prinsip keyakinan religiusitas," kata Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si saat memberikan sambutan pada acara Doa Bersama Antar Umat Beragama dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pekalongan yang ke 397 di Pendopo Bupati Pekalongan, Sabtu (24/8/2019) malam.
Dalam kegiatan tersebut dihadiri Ketua Sementara DPRD Dra. Hj. Hindun, MH., Dandim 0710 Pekalongan Letkol. Inf. Arfan Johan Wihananto, S.IP.,MMS., Wakapolres Pekalongan Kompol H. Mashudi, SH., Sekda Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM beserta para Asisten, para Staf Ahli Bupati dan para Kepala Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Pekalongan, tokoh agama dan tamu undangan.
Dijelaskan Bupati, doa bersama dimaksudkan meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar perjalanan Kabupaten Pekalongan yang sudah baik untuk dapat ditingkatkan. "Sedang yang kurang baik agar menjadi koreksi kita bersama supaya pembangunan dapat semakin dirasakan oleh masyarakat," ujarnya.
Pihaknya optimistis, persoalan yang ada seperti angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastrukstur akan dapat diselesaikan dengan adanya modal utama yakni kerukunan dan toleransi antar umat beragama.
"Pembangunan infrastruktur terus kita galakkan diantaranya di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi serta infrastruktur dalam bidang keagamaan baik intern umat beragama maupun antar umat beragama, karena hal itu merupakan modal utama pembangunan," paparnya.
Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Kabupaten Pekalongan, Dra. Hj. Hindun, MH mengatakan, bahwa doa merupakan ajaran agama bentuk ketertundukan kepada Tuhan yang tentunya dibarengi dengan ikhtiyar. "Sejak jaman dulu yakni sejak bupati pertama Pangeran Mandurorejo tahun 1622 M sampai kurun waktu lima tahun kepemimpinan Asip-Arini, Pemkab Pekalongan sudah berihtiyar semaksimal mungkin melakukan pembangunan," katanya.
Maksud doa bersama ini, kata Hindun, yakni berdoa agar Kabupaten Pekalongan dapat semakin maju, sejahtera, aman dan kondusif sehingga bisa melaksanakan pembangunan terus-menerus untuk mensejahterakan maayarakat. "Sejahtera ditandai dengan berkurangnya angka kemiskinan, terbebasnya kebutuhan, dan peningkatan SDM serta yang penting adalah kondisi aman," tuturnya.
Dijelaskan Hindun, selama kurun waktu lima tahun memimpin, Bupati Asip Kholbihi dan Wakil Bupati Arini Harimurti telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 12,98 menjadi 10,06. "Penurunan angka kemiskinan sebesar 2,5 persen merupakan prestasi yang bagus, selain itu pertumbuhan ekonomi juga meningkat, jika pertumbuhan ekonomi terus meningkat maka angka kemiskinan akan terus berkurang," ujarnya.(didik /dinkominfo kab.pekalongan)
Pada acara tersebut Kabid Program dan Monev Bappeda Litbang menyampaikan bahwa saat ini ada tiga isu dasar yang sangat strategis terkait paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan, yaitu tata kelola pemerintahan yang berbasis keterbukaan informasi publik, tata kelola pemerintahan berbasis Teknologi Informasi Komunikasi dan tata kelola pemerintahan berbasis single and open data system. Proyek perubahan yang merupakan inovasi dari Endang SR Juwaningsih sangat mendukung tiga capaian paradigma baru terkait penyelenggaraan pemerintahan. Harapan ke depan sistem aplikasi Simaurembug ini dapat diimplementasikan dan membantu mengoptimalkan monitoring dan evaluasi pembangunan untuk digunakan sebagai bahan perencanaan.
Endang mengatakan bahwa dasar pemikiran membuka akses publik atas proses pelaksanaan kegiatan Pembangunan di Kabupaten Pekalongan adalah bahwa pembangunan yang dibiayai dengan dana publik harus dipertanggungjawabkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting pemerintahan demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan sangat mendukung hal tersebut.
Melalui sistem aplikasi Simaurembug ini dapat diperoleh data dan informasi capaian indikator pembangunan di Kabupaten Pekalongan serta masyarakat dapat ikut serta dalam pengawasan pembangunan untuk memastikan kesesuaian antara jenis kegiatan, volume dan kualitas pekerjaan, waktu pelaksanaan dan penyelesaian kegiatan, dan/ atau spesifikasi dan mutu hasil pekerjaan dengan rencana pembangunan daerah yang telah ditetapkan. Dengan adanya aplikasi Simaurembug ini masyarakat dapat melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan di kabupaten Pekalongan.
Sistem Simaurembug ini dapat terjangkau dan diakses sepanjang terkoneksi dengan jaringan internet. Aplikasi Simaurembug berbasis web ini juga dapat diakses dengan menggunakan perangkat android. Adapun server dari Simaurembug ini ada pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pekalongan dengan alamat http://simaurembug.pekalongankab.go.id. Aplikasi simaurembug ini sudah terintegrasi dengan data dari aplikasi Simpel dari bagian pembangunan Setda Kabupaten Pekalongan.
Sebelum launching, uji coba aplikasi simaurembug telah dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2019 di Bappeda Litbang dihadiri perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukinan dan Lingkungan Hidup dan Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata. Pelaksanaan uji coba aplikasi berjalan lancar dan disepakati peserta rapat untuk melaksanakan pemantauan atau monev di lokasi kegiatan tanggal 7-8 Agustus 2019. Hasil monev pelaksanaan kegiatan di lokasi kemudian ditindaklanjuti untuk input ke aplikasi Simaurembug dan berhasil.
Tujuan dari adanya channel publik ini adalah untuk memudahkan masyarakat ikut serta aktif dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan di kabupaten Pekalongan. Pengembangan sistem aplikasi Simaurembug ini masih perlu dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan dan penyempurnaan, harapanya ke depan aplikasi ini dapat diterapkan dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si bersama Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti, Ketua Sementara DPRD Dra. Hj. Hindun, MH., Wakapolres Pekalongan Kompol H. Mashudi, SH., Ketua Pengadilan Agama H. Suwoto, SH., MH., Wakil Ketua Pengadilan Negeri Pekalongan, Perwira Penghubung Kodim 0710 Pekalongan.
Selanjutnya, Sekda Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM beserta para Asisten, para Staf Ahli Bupati dan para Kepala OPD, Ketua MUI KH. Rozikin Daman, Kepala Kemenag DR. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag, perwakilan Kejari Kajen.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan terima kasih kepada penerus Pangeran Mandurorejo yang sudah menyambut kedatangan rombongan. “Tradisi ziarah ke makam Mandurorejo sudah menjadi kegiatan rutin karena sudah dilakukan oleh bupati terdahulu dan kebiasaan ini harus dipertahankan,” katanya.
Bupati menambahkan, bahwa makam-makam Bupati Pekalongan terdahulu banyak tersebar di beberapa Kota/Kabupaten di sepanjang pantai utara. “Makam Bupati Pekalongan ada yang di Kendal, Kabupaten Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan dan bahkan ada pula yang di Gresik,” tutur Bupati Asip.
Dijelaskan Bupati Asip, ziarah ke makam Pangeran Mandurorejo merupakan agenda penting, karena makam tersebut merupakan situs sejarah bagi lahirnya Kabupaten Pekalongan. “Pangeran Mandurorejo merupakan Bupati pertama Pekalongan yang sangat berjasa bagi perkembangan Kabupaten Pekalongan selanjutnya,” terangnya.
Bupati berharap, kepada keturunan Pangeran Mandurorejo agar dapat melanjutkan spirit perjuangannya yang sangat heroik dalam melawan pasukan VOC dan jika pada masa sekarang yakni dengan membangun wilayah masing-masing sesuai dengan kodratnya. “Semoga ziarah ini menjadi amal sholeh dan tercatat sebagai birul wailadain sehingga hajat kita dapat dikabulkan,” harapnya.(didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Penandatanganan dilaksanakan d isela-sela acara peresmian Lapas Super Maksimum Security Kelas II A Karanganyar Nusakambangan, disaksikan oleh Menkumham RI Prof. Yasonna H. Laoly dan instansi terkait, Kamis (22/8/2019).
Asisten Pemerintahan dan Kesra Drs. Ali Riza, M.Si yang pada kesempatan tersebut mewakili Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH., M.Si yang berhalangan hadir karena salah satu kakak kandungnya meninggal, menyampaikan bahwa perjanjian kerjasama ini adalah bagian dari proses hingga pembangunan Lapas di Kabupaten Pekalongan terwujud.
"Pada prinsipnya, Pemerintah Daerah mendukung proses relokasi dari Kota Pekalongan ke Kabupaten Pekalongan. Dukungan tersebut dalam bentuk hibah tanah di desa Kalijoyo Kecamatan Kajen," ujar Ali Riza.
Dijelaskan Asisten I, saat ini masih proses pengadaan tanahnya , dan dilakukan MoU. Setelah pengadaan tanah selesai, diserahkan ke Kementerian Hukum dan HAM. Kemudian sepenuhnya proses kontruksi akan dilakukan oleh Kementerian Hukum dan HAM.
"Adanya MoU menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan mendukung proses relokasi Lapas dari Kota Pekalongan ke Kabupaten Pekalongan," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Kabupaten Pekalongan Dra. Hj. Hindun, MH yang turut hadir, menyampaikan kita diundang oleh Kementerian Hukum dan HAM, dalam rangka peresmian Lapas II Karanganyar Nusakambangan, sekaligus untuk MoU terhadap hibah tanah yang disampaikan dari Pemkab Pekalongan pada MenKumHam.
Kemudian nantinya, kata Hindun, tanah yang dihibahkan tersebut akan dibangun Lapas di Kabupaten Pekalongan. Banyak narapidana yang sekarang ada di Lapas Kota Pekalongan, karena Kabupaten Pekalongan belum mempunyai Lapas.
"Lapas ini ditempatkan di Desa Kalijoyo Kecamatan Kajen seluas 10 hektare. Mudah-mudahan oleh MenKumHam segera dibangun, dan tentunya dengan dibangunnya Lapas tersebut banyak memberikan masukan dan pertumbuhan ekonomi karena masyarakat di sekitarnya bisa tumbuh ekonomi secara luas. Kami dari DPRD mendukung penuh rencana pembangunan Lapas di Kajen ini," tandasnya.(red)
Kajen Gemuruh ke-6 dibuka Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti. Dihadiri suami Wakil Bupati yang notabene adalah mantan Bupati Pekalongan 2 periode yaitu Drs. H. Amat Antono, M.S.i. Hadir pula Dandim 0710 Pekalongan Letkol Inf. Arfan Johan Wihananto, S.IP.,MMS., beserta istri, Ketua Pengadilan Agama Kajen H. Suwoto, SH.,MH., Ketua Pengadilan Negeri Pekalongan Sutaji, ., Ketua Kementerian Agama Kasiman Mahmud Desky, M.Ag, perwakilan Kejari Kajen dan para Perwakilan OPD Kabupaten Pekalongan.
Wakil Bupati Pekalongan Ir. Hj. Arini Harimurti mengatakan, pelaksanaan Kajen Gemuruh sebagai salah satu rangkaian peringatan ke-74 Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-397 Kabupaten Pekalongan. Ia berharap untuk tahun-tahun berikutnya agar dilakukan inovasi, seperti diadakan lomba bagi peserta.
Wakil Bupati menambahkan, dirinya senang sekali dengan adanya Kajen Gemuruh, karena mereka berasal dari penjuru Kabupaten Pekalongan dengan seragam yang beraneka namun secara bersama-sama memainkan alunan yang sama, hal itu merupakan salah satu bukti adanya semangat persatuan.
"Tahun depan saya harap kegiatan ini dapat dilombakan, sehingga tambah menarik dan mereka datang ke sini tidak hanya memainkan tiga lagu dan panitia menyediakan hadiah menarik bagi yang berprestasi,” kata Arini.
Tidak lupa Wakil Bupati mengucapkan terima kasih kepada peserta yang telah mengikuti acara Kajen Gemuruh. Menurutnya kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai acara rutinan Pemkab Pekalongan saja akan tetapi adalah upaya untuk mewujudkan persatuan.
“Negara Indonesia adalah negara besar yang mempunyai potensi budaya yang besar dengan kemajemukan dan pluralitas masyarakatnya, untuk itu perlu dipupuk dan dilestarikan salah satunya dengan kegiatan Kajen Gemuruh ini,” terangnya.
Sementara itu Ketua Panitia Peringatan ke-74 Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-397 Kabupaten Pekalongan, Dra. Ali Riza, M.Si mengatakan, Kajen Gemuruh tahun 2019 merupakan tahun ke 6 pelaksanaan, dengan maksud untuk memberikan ruang ekspresi bagi grup drumband yang ada di Kabupaten Pekalongan. (didik /dinkominfo kab.pekalongan)
Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si dalam acara “Suluk Bumi Santri”. Acara dilaksanakan di pendopo Kecamatan Sragi, Minggu (18/08/2019) malam.
“Pembangunan manusia lahir dan batin. Batin manusia diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Kabupaten Pekalongan, ” ujar Bupati.
Dengan kata lain, lanjut Bupati, unsur-unsur yang merupakan materi/bahan pembangunan tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat sendiri.
“Melihat permasalahan-permasalahan yang ada saat ini, tokoh masyarakat, budayawan, dan ormas harus dapat bermitra dengan pemerintah daerah untuk menempatkan budaya sebagai ujung tombak dalam menjaga persatuan dan kesatuan untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, jelas Bupati
“Lesbumi mempunyai potensi besar untuk berperan serta dalam pengembangan dan pelestarian nilai budaya. Dikarenakan memiliki aktivitas yang mengakar di masyarakat luas. Sehingga secara otomatis dapat merasakan getaran-getaran riil yang terjadi di masyarakat utamanya dalam memajukan kebudayaan, melestarikan tradisi, dan mengembangkan adat budaya masyarakat,” imbuhnyai.
Sementara itu, Gus Eko Ahmadi, Ketua Lesbumi PCNU Kab Pekalongan menyampaikan bahwa Kabupaten Pekalongan merupakan daerah dengan berbagai kearifan lokal yang telah eksis dengan seni dan kebudayaannya. Keragaman perilaku budaya dan lokal wisdom yang beragam menjadikan seni dan budaya Kabupaten Pekalongan yang unik menjadi menarik untuk dipelajari.
Dituturkan Gus Eko, sebagai kabupaten yang besar dengan keanekaragaman budaya yang menjadi identitas, sehingga diperlukan pemahaman seni dan budaya sebagai nilai dasar ketahanan nasional, serta sebagai pemersatu keragaman seni dan budaya bangsa.
“Seni dan budaya di Kabupaten Pekalongan menjadi pemersatu apabila kita memiliki rasa bangga terhadap seni dan budaya yang kita miliki,” katanya.
Acara yang dilaksanakan di pendopo Kecamatan Sragi, Minggu (18/08) itu dimulai dari pagi hari hingga malam yaitu sepeda santai, senam aerobik, karnaval budaya. Selanjutnya pada siang harinya pentas seni komunitas band, drumband, tari kreasi nusantara dilanjutkan sore sampai malam hadroh sholawat, tari kipas, tari dendang kota santri, pencak silat tapak suci dan sintren serta sarasehan.
Saat sarasehan, Gus Eko menjelaskan bahwa, berbagai permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia umumnya dan Kabupaten Pekalongan khususnya ini sangatlah kompleks. Salah satunya karena lemahnya pemahaman nilai-nilai seni dan budaya yang terkandung di dalam pembangunan itu seperti budaya ramah tamah, gotong royong, musyawarah mufakat sudah luntur dan tergeser.
“Bahkan ada sebagian yang mulai menghilang oleh derasnya laju globalisasi, dan masuknya budaya luar yang telah merusak moral dan etika yang akhirnya menimbulkan degradasi budaya,” paparnya.
Menurut Gus Eko, upaya pengembangan dan pelestarian budaya daerah dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah khususnya bidang kebudayaan.(red)
Dalam kesempatan tersebut hadir Istri Bupati Pekalongan Dra. Hj. Munafah, Kepala Dinperindagkop, Muspika Kedungwuni, Ketua Paguyuban Tionghoa, Ibu-Ibu pedagang pasar kedungwuni dan ibu-ibu Kelurahan Kedungwuni Barat Kecamatan Kedungwuni.
Bupati menambahkan, kegiatan tersebut adalah bentuk ikhtiar untuk saling menghargai antar sesama, ukhuwah basyariyah, tepo seliro saling menghargai antar sesama. ”Saya berharap memfasilitasi kegiatan mengumpulkan warga, kalau ada perbedaan kita rembug, rukun adalah modal utama, untuk ibadah dan beraktifitas,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Asip juga mengajak kepada warga Kedungwuni untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan. ” Tujuan kita bersatu adalah guyub rukun untuk tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera dan tugas kita tinggal memupuk dan mempersatukan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan,” terangnya.
Bupati mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi paguyuban ibu-ibu Kedungwuni. Menurutnya, berbagai elemen dapat hadir dalam acara peringatan HUT RI ke 74 dalam rangka merajut kebhinekaan. “Keguyuban masyarakat ini tidak hanya dalam rangka 17 an, akan tetapi bisa dilaksanakan kegiatan yang lain misalnya ibu-ibu urunan untuk gerakan bedah rumah nanti bupati dan pemerintah daerah yang memotori,” harap bupati.(didik/dinkominfo kab.pekalongan)