Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah salah satunya ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diperolehnya. Indikator kualitas pendidikan masyarakat adalah berupa tingkat pendidikan dan keterjangkauan pelayanan pendidikan.
Dalam rangka peningkatan pemerataan pendidikan, tahun 2005 telah dibangun, 25 lokal Ruang Kelas Baru (RKB) dari Departemen Pendidikan Nasional, 10 lokal Ruang Kelas Baru (RKB) SLTP/SM dan rehabilitasi 56 SD/MI yang terdiri dari 304 lokal dari alokasi dana APBD Kabupaten Pekalongan.
Pada tahun 2005 telah dibangun 1 Unit Sekolah Baru (USB) SLTP dari bantuan Bank Dunia 2 lokal kelas baru dari Depdiknas, rehabilitasi 92 unit SD/MI dari dana APBD Kabupaten Pekalongan. Dengan dibangunnya RKB dan rehabilitasi tersebut dapat meningkatkan angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni pendidikan tahun 2005.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam rangka meningkatkan mutu tenaga pendidik dan peserta didik diantaranya dilakukan melalui kegiatan peningkatan mutu tenaga kependidikan, kegiatan sekolah unggulan SD, SLTP dan SMA dan lomba kreativitas guru.
Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI pada tahun 2004 sebesar 11011,% menjadi 108,51% pada tahun 2005, sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI pada tahun 2004 sebesar 94,53%, menjadi 96,50% pada tahun 2005.
Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP pada tahun 2004 sebesar 79,59% menjadi 79,32% pada tahun 2005, sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) SLTP pada tahun 2004 sebesar 77,20 % menjadi 77,67% pada tahun 2005.
Sementara untuk Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTA mengalami peningkatan dari 33,73% di tahun 2004 naik menjadi 34,97% pada tahun 2005, sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) SLTA mengalami kenaikan dari 25,58% pada tahun 2004 naik menjadi 25,81% di tahun 2005.
Kamis, 3 Agustus 2006
Kondisi kesehatan yang dihadapi masyarakat Kabupaten Pekalongan dalam tahun 2007 adalah masih rendahnya status gizi terutama kasus kurang Energi Protein ( KEP ) pada masyarakat, tingginya angka kesakitan khususnya penyakit menular terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ) dan Diare. Faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut adalah faktor lingkungan, perilaku dan masih rendahnya ekonomi masyarakat.
Kondisi kesehatan yang dihadapi masyarakat Kabupaten Pekalongan dalam tahun 2007 adalah masih rendahnya status gizi terutama kasus kurang Energi Protein ( KEP ) pada masyarakat, tingginya angka kesakitan khususnya penyakit menular terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ) dan Diare. Faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut adalah faktor lingkungan, perilaku dan masih rendahnya ekonomi masyarakat.
Usia Harapan Hidup penduduk Kabupaten Pekalongan pada tahun 2007 sebesar 67,90 tahun meningkat dibanding tahun 2006 sebesar 67,70 tahun. Angka Ketergantungan tahun 2007 sebesar 62,31, adapun tahun 2006 sebesar 60,31. Angka Kematian Bayi ( AKB ) tahun 2007 sebesar 6,6 per 1.000 kelahiran hidup menurun dibanding tahun 2006 sebesar 14,87 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan untuk Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) tahun 2007 sebesar 87 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih lebih rendah dibanding angka Propinsi Jawa Tengah.
Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah ( BP.RSUD ) Kraton Kabupaten Pekalongan merupakan Rumah Sakit Milik Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan merupakan Rumah Sakit Umum Kelas B Non Pendidikan dengan jumlah Tempat Tidur 226 TT, sedangkan pemanfaatan Tempat Tidur ( BOR ) tahun 2007 sebesar 74,49 %.
Kualitas Pelayanan BP RSUD Kraton Tahun 2007
Dalam rangka mendukung pertumbuhan sektor lain seperti sektor ekonomi, telah dilaksanakan peningkatan kualitas prasarana wilayah antara lain melalui kegiatan pemeliharan serta peningkatan jalan dan jembatan secara rutin maupun berkala. Dengan prasarana jalan yang baik akan dapat mendukung lancarnya kegiatan distribusi barang dan jasa yang akan dapat mendukung tingginya mobilitas masyarakat dalam kegiatan perekonomian.
Panjang jalan tahun 2006 adalah 518,53 km ( 129 - ruas ) mengalami peningkatan menjadi 558.08 km ( 142 ruas ) pada tahun 2007.
Untuk jalan dengan kondisi baik meningkat dari semula 178,24 km ( 31,94% ) pada tahun 2006 meningkat menjadi 339,66 km ( 65,50% ) pada tahun 2007, jalan kondisi sedang semula 87,89 km ( 16,95%) pada tahun 2006 meningkat menjadi 204,37 km ( 36,62% ) pada tahun 2007.
Sedangkan jalan yang kondisinya rusak mengalami penurunan dari 175,47 km ( 31,44% ) pada tahun 2006 menjadi 90,97 km ( 17,54% ) pada tahun 2007 jalan yang kondisinya rusak berat tahun 2007 sepanjang 61,69 km (11,9%).
Disamping itu juga dilaksanakan penanganan perbaikan / pembangunan sarana dan prasarana jalan yang rusak akibat dari bencana alam, musim penghujan dsb.
Di Kabupaten Pekalongan terdapat tiga penggolongan status jalan yaitu Jalan Negara, Jalan Propinsi dan Jalan Kabupaten. Jalan Negara yang terdapat di wilayah Kabupaten Pekalongan adalah jalur Pantura atau biasa juga disebut oleh orang tua zaman dahulu dengan nama Jalan Dandelsh yang berada membujur dari timur perbatasan dengan Kota Pekalongan ( Kecamatan Tirto ) sampai kebarat ( Desa Rembun Kecamatan
Siwalan ) yang berbatasan dengan Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang sepanjang 10,01 km, lebar 15 m adapun jalan Propinsi yang berada di wilayah Kabupaten Pekalongan sepanjang 89,82 km lebar jalan 18 m dengan perincian sbb: nama ruas jalan Wiradesa - Kalibening panjang jalan 52,40 km, lebar 9 m dengan kondisi baik, nama ruas jalan Kesesi - Kebonagung panjang jalan 9,12 km, lebar 6 m dengan kondisi sedang,nama ruas jalan Kebonagung - Sipicis panjang jalan 28,30 km, lebar 6 m dengan kondisi sedang.(Sumber Buku Profil, Potensi, Peluang Investasi dan Kebijakan Pembangunan Kabupaten Pekalongan Tahun 2007)
Air bersih adalah merupakan salah satu dari kebutuhan pokok masyarakat, oleh karena itu pelayanan dan ketersediaan air bersih mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya untuk mensejahterakan masyarakat.
Kondisi prasarana air bersih di Kabupaten Pekalongan antara lain adalah sumur gali, sumur pompa, sumur artetis, air bersih perpipaan dan pelanggan PDAM.
Keadaan air bersih di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2006 yaitu dapat dilihat dari adanya jumlah penduduk yang menggunakan
Sumur gali tahun 2006 sebanyak 108.109 buah, naik dibanding tahun 2005 sebanyak 105.480 buah
Sumur pompa sebanyak 1.446 buah naik dibanding tahun 2005 sebanyak 1.349 buah
Sumur artetis tahun 2006 sebanyak 17 buah naik dibanding tahun 2005 sebanyak 11 buah,
Air bersih perpipaan tahun 2006 sebanyak 69 naik dibanding tahun 2005 sebanyak 57
Jumlah pelanggan PDAM tahun 2006 sebanyak 4.574 sambungan rumah dibanding tahun 2005 sebanyak 4.203 sambungan rumah
Banyaknya air tersalurkan ke pelanggan sebanyak 1.012.863 m3 dengan nilai produksi sebesar Rp. 666.750.220,- (enam ratus enam puluh enam juta tujuh ratus lima puluh ribu dua ratus dua puluh rupiah).
Air merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup, khususnya bagi manusia kebutuhan untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat menjadi sangat penting, sebab mengkonsumsi air yang tidak bersih dan sehat akan mengganggu kesehatan dan mengancam keselamatan / kehidupan manusia.
Air bersih adalah merupakan salah satu dari kebutuhan pokok masyarakat, oleh karena itu pelayanan dan ketersediaan air bersih mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya untuk mensejahterakan masyarakat.
Program penyediaan air minum, sanitasi dan kesehatan akan efektif dan berkelanjutan bila dilakukan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan dilakukan dengan melalui pendekatan yang tanggap
terhadap kebutuhan masyarakat ( demand responsive approach ) Untuk itu perlu dilakukan suatu usaha memberdayakan masyarakat agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam penyiapan, melaksanakan, mengoperasionalkan dan memelihara sarana yang telah dibangun serta melanjutkan kegiatan peningkatan derajat kesehatan.
Selama tahun 2007 Pemerintah Pusat melalui dana APBN dan didampingi dana APBD Kabupaten Pekalongan mengalokasikan dana sebesar Rp. 3.235.000.000 ( tiga milyar dua ratus tiga puluh lima juta rupiah ) untuk program air bersih. Dana APBN atau DAK ini diturunkan kepada masyarakat untuk program Air bersih, Air Minum dan Penyehatan Lingkungan ( AMPL ).
Selain itu dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat untuk memperoleh air minum dan sanitasi yang bersih dan sehat, pada tahun 2008 juga akan diadakan proyek penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat yaitu berupa proyek Pamsimas ( Penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat ) dimana masyarakat akan diajak untuk berpartisipasi supaya bisa merasa memiliki, sehingga mereka bisa ikut memelihara dan mengelolanya dengan baik.
Program ini sebagai evaluasi dari program-program biasanya yang selama ini dilakukan pemerintah bersifat top-down dari pemerintah, sehingga biasanya masyarakat tidak peduli terhadap proyek tersebut. Dalam proyek ini, keterlibatan masyarakat sangat jelas dari awal sampai akhir, mulai dari penentuan program kira - kira akan membuat apa, sistemnya, perencanaannya dan pengelolaannya dibuat oleh masyarakat sehingga pasca pelaksanaanpun masyarakat akan tetap mengelolanya. Targetnya bisa terwujud penyediaan air minum dan sanitasi yang berbasis masyarakat baik pemeliharaan, pengelolaan termasuk perbaikan alat - alat ( operation maintenance ) semuanya dilaksanakan oleh masayarakat.Penentuan lokasi mana saja yang akan memperoleh proyek ini dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan, sehingga tidak semua lokasi memperoleh proyek ini, lokasi dipilih sesuai dengan kriteria - kriteria yang sudah ditentukan yaitu : (1) Desa/ Kelurahan miskin; Desa / Kelurahan terkait preferensi air tinggi 1,27 juta pertahun; Terbatas akses air minum dan sanitasi; Diutamakan pada desa - desa yang belum mendapat proyek sejenis pada tahun - tahun terakhir; Adanya kontribusi masyarakat; dan (6) Adanya kesanggupan untuk beaya operasional dan pembiayaan.Adapun jumlah proyek sebesar Rp. 275.000.000 per desa, untuk tahun 2007 Kabupaten Pekalongan mendapat jatah sebanyak 9 desa dan sekarang masih dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat karena program Pamsimas ini merupakan program pemerintah secara nasional. Bentuk fisik program Pamsimas ini adalah: (1) Air bersih, bisa berupa sumur gali, sumur dalam/bor, pipanisasi ( dari mata air kebawah ); dan (2) Sanitasi, bisa berwujud MCK, saluran air dan lain sebagainya.Program air bersih, air minum dan penyehatan lingkungan yang dibiayai oleh DAK tersebut akan dimulai pada tahun 2008, namun harus ada alokasi dana 30% untuk sanitasi. Program Pansimas ini akan berjalan selama 4 tahun, mulai dari tahun 2008 - 2011 tanggapan masyarakat Kabupaten Pekalongan sangat antunias. Untuk lebih jelasnya Tim Teknis sejak tanggal 26 Nopember 2007 selama 2 minggu sudah mengadakan identifikasi kegiatan - kegiatan yang akan dilakukan oleh masyarakat.Faktor yang bisa menghambat program ini adalah apabila dimasyarakat tidak ada kekompakan, sedangkan permasalahan teknis bisa diminimalisir dengan adanya fasilitator. Ini adalah program yang menggunakan metode baru yang apabila bisa berjalan dengan baik, maka bisa dicobakan ke sektor lain.Keadaan air bersih di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2007 yaitu dapat dilihat dari adanya jumlah penduduk yang menggunakan sumur gali tahun 2007 sebanyak 108.109 buah, naik dibanding tahun 2006sebanyak 105.480 buah, sumur pompa sebanyak 1.446 buah naik dibanding tahun 2006 sebanyak 1.349 buah, sumur artetis tahun 2007 sebanyak 8 antara lain terdapat di Kecamatan Kesesi 1 buah, Kecamatan Wonopringgo 1 buah, Kecamatan Kedungwuni 1 buah, Kecamatan Sragi 1 buah, Kecamatan Wiradesa 2 buah dan Kecamatan Tirto 2 buah , menurun dibanding tahun 2006 sebanyak 17 buah, sementara jumlah pelanggan PDAM tahun 2007 sebanyak 4.740 Sambungan Rumah ( SR ) meningkat dibanding tahun 2006sebanyak 4.574 Sambungan Rumah ( SR ), sedangkan banyaknya air tersalurkan ke pelanggan selama tahun 2007 sebanyak 1.012.863 m3 dengan nilai produksi sebesar Rp. 666.750.220,-(Sumber Buku Profil, Potensi, Peluang Investasi dan Kebijakan Pembangunan Kabupaten Pekalongan Tahun 2007)
Melalui kerja sama yang baik antara Pemerintah Kabupaten Pekalongan dengan PT Telkom serta pihak swasta, prasarana telekomunikasi selama tahun 2006 terjadi penambahan Sentral Telepon Otomatis Terpasang sebanyak 24 Satuan Sambungan Telepon (SST) atau 1,04%, yaitu dari 2.315 SST pada tahun 2005 menjadi 2.335 SST SST.
Pertumbuhan Fixed Line (kabel) tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 2,63% dibanding tahun 2005 yakni dari 3.803 SST menjadi sebanyak 3.903 SST.
Wireless Local Loop (WLL) atau sambungan telepon tanpa kabel pada tahun 2006 mengalami penurunan 68,14% dibanding tahun 2005 yaitu dari 2.423 SST menjadi sebanyak 772 SST di tahun 2006.
Fasilitas telekomunikasi yang telah dibangun untuk memperlancar arus komunikasi di bidang pemerintahan adalah berupa Telepon Sistem SNAO pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Karangdadap, Petungkriyono dan Kecamatan Lebakbarang sehingga mempermudah jalur komunikasi baik antar kabupaten dengan kecamatan maupun antar kecamatan dengan kecamatan.
Disamping itu partisipasi swasta di bidang telekomunikasi yang semakin baik diantaranya telah terbangun beberapa Base Terminal Station ( BTS ) Satelindo Telkomsel dan Indosat di Kota Kajen dan sekitarnya, hal ini dapat lebih memperlancar komunikasi telepon seluler ( HP ) bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan.
[Gambar]
Dengan adanya kerjasama yang semakin baik antara Pemerintah Kabupaten Pekalongan dengan PT Telkom serta pihak swasta bidang telekomunikasi lainnya, prasarana telekomunikasi selama tahun 2004 terjadi penambahan kapasitas Sentral sebanyak 358 Satuan Sambungan Telepon, meningkat menjadi 654 Satuan Sambungan Telepon ( STT ) atau 14,5% yaitu dari 4.507 SST pada tahun 2004 menjadi 5.161 SST. Pada tahun 2005 PT Telkom mulai meluncurkan jenis produk CDMA dan di wilayah Kabupaten Pekalongan telah tersambung sebanyak 6.100 Satuan Sambungan Flexi (SSF).
Fasilitas telekomunikasi yang telah dibangun untuk memperlancar arus komunikasi di bidang pemerintahan adalah berupa Telepon Sistem SNAO pada empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kandangserang, Paninggaran, Petungkriono dan Kecamatan Lebakbarang sehingga mempermudah jalur komunikasi baik antar kabupaten-kecamatan dan antar kecamatan-kecamatan.
Disamping itu partisipasi swasta di bidang telekomunikasi yang semakin baik diantaranya telah terbangun beberapa Base Terminal Station ( BTS ) Satelindo Telkomsel dan Indosat di Kota Kajen dan sekitarnya, hal ini dapat lebih memperlancar komunikasi telepon seluler ( HP ) bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Banyak sumber mengatakan bahwa Pekalongan mulai dikenal setelah Bahurekso bersama anak buahnya berhasil membuka Hutan Gambiran/Gambaran, atau dikenal pula Muara Gambaran. Hal ini terjadi setelah Bahurekso gagal didalam penyerangan ke Batavia, bersama anak buahnya kembali ke Pantai Utara Jawa Tengah, namun secara sembunyi-sembunyi, sebab kalau diketahui oleh Pemerintah Sultan Agung pasti ditangkap dan dihukum mati. Sehingga terus melakukan yang disebut TAPA-NGALONG. Dari sinilah muncul prediksi-prediksi berkaitan dengan istilah PEKALONGAN.
Menurut penuturan R. Basuki (Putra Almarhum R. Soenarjo keturunan Bupati Mandurorejo) ; nama Pekalongan berasal dari istilah setempat HALONG - ALONG yang artinya hasil. Jadi Pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Sehingga prediksi Topo Ngalong itu hanya gambaran/sanepo yang mempunyai maksud siang hari sembunyi, malam hari keluar untuk mencari nafkah.
Didalam babad Sultan Agung yang merupakan sumber yang dapat dipercaya istilah pengangsalan nampaknya juga muncul. :"Gegaman wus kumpul dadi siji, samya dandan samya numpak palwa, gya ancal mring samudrane ; lampahe lumintu, ing Tirboyo lawan semawis ; ing Lepentangi, Kendal, Batang, Tegal, Sampun, Barebes lan Pengangsalan. Wong pesisir sadoyo tan ono kari, ing Carbon nggertata" (senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap, para prajurit diberangkatkan berlayar.
Pelayarannya tiada henti-hentinya melewati Tirbaya, Semarang, Kaliwungu, Kendal, Batang, Tegal, Brebes dan Pengangsalan. Semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon).
Sehingga dari beberapa uraian tersebut, prediksi Topo Ngalong hanya gambaran atau sanepo yang mempunyai maksud, pada siang hari sembunyi, dan hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan/nafkah.
Tersebut nama-nama Regent/Bupati Pekalongan :
- Tan Kwee Djan (1741)
- Raden Toemenggoeng Wirio Adi Negoro (1823).
- Raden Adipati Wirijo Adi Negoro (1825)
Membangun Masjid Jami (besar), dimulai pada Hari Selasa Kliwon tanggal 20 Desember 1825.Pada tahun 1933 dilakukan pemugaran dengan mendirikan menara.
- Raden Toemenggoeng Arjo Wirjo Di Negoro (16 Oktober 1848)
- Raden Toemenggoeng Ario Werio Dhi Di Negoro (1856)
- Raden Toemenggoeng Ario Atmodjo Negoro (20 Januari 1872)
- Raden Toemenggoeng Ario Koesoemo Di Negoro (25 Juni 1878)
- Raden Adipati Noto Dirdjo (1879 - 1920)
Pada tanggal 31 Maret 1879 sampai 1 Maret 1880 membangun Gedung Kabupaten Pekalongan, yang ditandai pada lempengan batu marmer putih yang dipasang di tembok gedung. Menurut sumber lisan juga disebutkan bahwa pohon-pohon beringin di Alun-alun Pekalongan tiap-tiap pohonnya diberi nama Kawedanan yang mengirim bibitnya.
- Raden Toemenggoeng Ario Soerjo (10 Maret 1924) Adapun Wilayahnya disebut Regentscap. Sedang untuk kawedanan disebut Gewest.
Gewest di Jawa Tengah waktu itu meliputi :
1) Semarang Gewest, yang meliputi Regentschap (Kabupaten) Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Djepara dan Grobogan.
2) Rembang Gewest, yang meliputi Regentschap Rembang, Blora, Tuban dan Bodjonegoro.
3) Banyumas Gewest, yang meliputi Regentschap Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Bandjarnegara dan Purbolinggo.
4) Kedu Gewest, yang meliputi Regentschap Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworedjo, Kutoardjo, Kebumen dan Karanganjar.
5) Pekalongan Gewest, yang meliputi Regentschap Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang.
Pada tahun 1934 diadakan penggabungan beberapa Kabupaten yaitu :
| No | Uraian | Tahun 2006 | Tahun 2007 |
| 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 | Jumlah Tempat Tidur Jumlah Pasien Masuk Jumlah Pasien Keluar - Hidup - Mati Mati > 48 jam Mati < 48 jam Jumlah Hari Rawat Hari Rawat Maksimal Jumlah Hari BOR (%) LOS (hari) TOI (hari) BTO (kali) NDR (%) GDR (%) | 226 12.236 12.192 11.514 678 315 363 54.710 54.274 365 66,32 4,45 2,28 53,95 25,80 55,60 | 226 13.042 12.903 12.217 686 327 359 61.443 56.775 365 74,49 4,40 1,63 57,09 25,30 53,20 |
Pelayanan unggulan yang ada di BP. RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan antara lain :
- Endoscopy
- Hemodialisa
- Jantung ( Tread Mill ). (Gedung RSUD Kraton)
(Sumber Buku Profil, Potensi, Peluang Investasi dan Kebijakan Pembangunan Kabupaten Pekalongan Tahun 200&)
Kamis, 3 Agustus 2006
Kamis, 3 Agustus 2006
Kamis, 3 Agustus 2006
Kamis, 3 Agustus 2006
Kamis, 3 Agustus 2006
Kamis, 3 Agustus 2006
Selasa, 1 Agustus 2006
Kabupaten Batang digabungkan dengan Kabupaten Pekalongan.
Kabupaten Banyumas digabungkan dengan Kabupaten Purwokerto.
Kabupaten Kutoardjo digabungkan dengan Kabupaten Purworedjo.
Kabupaten Karanganjar digabungkan dengan Kabupaten Kebumen.
Selasa, 1 Agustus 2006