Bantu kami meningkatkan kualitas Website Resmi Kabupaten Pekalongan dengan mengisi survei singkat (±1 menit).
PEKALONGAN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan menegaskan pentingnya peran petugas Sensus Ekonomi 2026 sebagai ujung tombak penyediaan data yang akan menjadi fondasi perencanaan dan pembangunan daerah ke depan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M. Yulian Akbar, saat memberikan pembekalan kepada petugas Sensus Ekonomi 2026, Kamis 11 Juni 2026.
Dalam arahannya, M. Yulian Akbar menekankan bahwa keberhasilan sensus sangat bergantung pada profesionalisme dan integritas petugas di lapangan. Menurutnya, data yang akurat dan valid menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
"Petugas sensus ekonomi merupakan ujung tombak pembangunan Kabupaten Pekalongan. Data yang dihimpun akan menjadi landasan dalam menentukan arah kebijakan dan program pembangunan daerah di berbagai sektor," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Pekalongan, Maibu Barwis Sugiharto, menjelaskan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Pekalongan melibatkan total 903 petugas.
Jumlah tersebut terdiri atas 796 petugas pencacah lapangan yang bertugas melakukan pendataan langsung kepada pelaku usaha, serta 171 Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) yang bertanggung jawab memastikan kualitas dan validitas data hasil pendataan.
"Keberadaan ratusan petugas tersebut menjadi elemen penting dalam menjangkau seluruh aktivitas ekonomi yang ada di wilayah Kabupaten Pekalongan. Ia berharap seluruh petugas dapat menjalankan tugas secara profesional, teliti, dan sesuai standar yang telah ditetapkan," terangnya.
Ditambahkan, Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 diharapkan mampu menghasilkan data yang komprehensif mengenai kondisi dan perkembangan sektor usaha di Kabupaten Pekalongan. Data tersebut nantinya akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Dengan pembekalan yang diberikan, para petugas diharapkan siap menjalankan tugas di lapangan sehingga hasil sensus dapat memberikan gambaran nyata tentang potensi dan dinamika ekonomi masyarakat Kabupaten Pekalongan sebagai fondasi pembangunan daerah 10 tahun mendatang
Kamis, 11 Juni 2026
KAJEN - Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyambut kepulangan jamaah haji asal Kabupaten Pekalongan yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 11 di Aula Lantai 1 Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pekalongan, Minggu (7/6/2026) sore.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Pekalongan, Dra. Hj. Siti Masruroh, M.Si., menyampaikan rasa syukur atas kepulangan seluruh jamaah haji Kloter 11 yang berjumlah 91 orang dalam keadaan sehat dan selamat.
KAJEN - Kepulangan jamaah haji Kabupaten Pekalongan Kloter 12 tidak hanya menjadi momen penuh kebahagiaan bagi keluarga dan pemerintah daerah, tetapi juga diharapkan membawa dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., saat menyambut kedatangan jamaah haji Kloter 12 di Aula Lantai 1 Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan, Senin (8/6/2026).
KEDUNGWUNI – Pemerintah Kabupaten Pekalongan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 dengan menggelar serangkaian kegiatan yang dipusatkan di Rusunawa Kedungwuni, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
KAJEN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyatakan dukungan penuh terhadap program Insersi Pendidikan Perkoperasian yang mulai diterapkan di seluruh satuan pendidikan di Jawa Tengah pada tahun ajaran 2026/2027. Program yang menyasar sekitar 6,38 juta peserta didik itu dinilai menjadi langkah strategis untuk menanamkan pemahaman ekonomi kerakyatan sejak usia dini.
TIRTO – Turnamen Sepak Bola Silirejo Cup 2026 resmi berakhir dengan laga final yang berlangsung sengit dan penuh tensi di Lapangan Sepak Bola Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Jumat 5 Juni 2026. Ambokembang FC sukses keluar sebagai juara setelah menaklukkan Persepa FC melalui adu penalti dengan skor 6-5.
KAJEN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan resmi mendeklarasikan Program Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) Tahun 2026 sebagai langkah memperkuat kapasitas penanggulangan bencana hingga tingkat kecamatan. Langkah ini diambil di tengah tingginya ancaman bencana yang terus membayangi wilayah Kabupaten Pekalongan, dengan catatan 176 kejadian bencana alam hanya dalam enam bulan pertama tahun 2026.
"Alhamdulillah, pada sore hari ini kita menyambut kepulangan jamaah haji Kabupaten Pekalongan, khususnya yang masuk dalam Kloter 11. Kloter ini terdiri dari 91 jamaah dan semuanya telah kembali dalam keadaan sehat, selamat, dan aman," ujarnya.
Siti Masruroh menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pekalongan memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi proses penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari pemberangkatan hingga kepulangan jamaah ke daerah asal. Dengan tibanya Kloter 11, rangkaian fasilitasi untuk kelompok tersebut telah terlaksana dengan baik, dan berikutnya masih ada kloter 12, 13, dan 14.
Ia berharap seluruh jamaah haji yang telah menunaikan rukun, wajib, serta sunah haji dan umrah selama berada di Tanah Suci dapat memperoleh predikat haji yang mabrur dan hajah yang mabruroh.
Selain itu, para jamaah diharapkan mampu menjaga dan meningkatkan kemabruran hajinya melalui peningkatan kualitas ibadah, menjaga akhlak, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
"Kami berharap seluruh jamaah dapat terus menjaga kemabruran hajinya dengan meningkatkan ibadah, menjaga akhlak, dan memperkuat kepedulian sosial. Hal tersebut menjadi harapan besar bagi kita semua," tambahnya.
Saat ditemui usai penyambutan jamaah haji di Kabupaten Pekalongan, Ahmad Subkhi menyampaikan bahwa dirinya bersyukur dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji berkat pertolongan Allah SWT.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas nikmat dan pertolongan Allah SWT sehingga saya bersama rombongan dapat melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji dengan sebaik-baiknya, baik rukun, wajib, maupun sunah-sunahnya,” ujarnya.
Menurut Ahmad, ibadah haji tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga sarana untuk melatih kesabaran dan keteguhan hati. Berbagai tantangan yang dihadapi selama berada di Tanah Suci justru menjadi pelajaran berharga bagi para jamaah.
Ia menuturkan bahwa setiap tahapan ibadah memerlukan perjuangan dan kesabaran, terutama saat pelaksanaan wukuf di Arafah, perjalanan menuju Mina, hingga berjalan kaki menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah.
“Semua membutuhkan perjuangan. Jamaah harus memiliki fisik yang kuat, kesabaran yang tinggi, dan kesiapan mental untuk menjalani setiap rangkaian ibadah,” katanya.
Selain tantangan dalam menjalankan ibadah utama, Ahmad juga mengungkapkan bahwa aktivitas sehari-hari selama berhaji, seperti mengantre untuk menggunakan fasilitas umum, turut mengajarkan arti kesabaran.
“Bahkan untuk ke kamar mandi pun terkadang membutuhkan kesabaran. Dari situ kami belajar bagaimana menghadapi berbagai ujian dengan ikhlas dan tetap menjaga semangat beribadah,” tambahnya.
Penyambutan jamaah haji tersebut berlangsung dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan dari keluarga maupun jajaran Pemerintah Kabupaten Pekalongan yang turut menyambut kedatangan para tamu Allah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.
Senin, 8 Juni 2026
Menurut Sukirman, predikat haji mabrur dan hajjah mabruroh harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui peningkatan ketakwaan, akhlak yang lebih baik, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Pesan yang selalu disampaikan para kiai adalah bagaimana setelah pulang haji kita dapat terus meningkatkan ketakwaan. Makna haji mabrur dan mabruroh adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan,” ujarnya.
Ia menambahkan, para jamaah memiliki peran penting sebagai teladan di tengah masyarakat, khususnya dalam menjaga nilai-nilai moral dan akhlak di tengah proses pembangunan daerah.
“Yang tidak kalah penting, para jamaah diharapkan dapat turut menjaga keseimbangan akhlak dan moral dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Pekalongan,” kata Sukirman.
Sebanyak 353 jamaah asal Kabupaten Pekalongan yang tergabung dalam Kloter 12 berangkat menuju Tanah Suci pada 24 April 2026 silam. Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji, para jamaah kembali ke tanah air dan disambut oleh pemerintah daerah serta keluarga.
Namun, di balik kebahagiaan tersebut, terdapat kabar duka karena dua jamaah dari Kloter 12 meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Keduanya adalah H. Siti Rahayu dari Desa Lambanggelun dan H. Supeno dari Desa Kwagean.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya kedua jamaah tersebut. Sukirman mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan agar almarhum dan almarhumah memperoleh husnul khatimah serta mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Rasa syukur dan haru menyelimuti kepulangan jamaah haji asal Kabupaten Pekalongan yang telah menuntaskan rangkaian ibadah haji tahun 2026. Salah satunya dirasakan Wirham beserta sang istri Niti Mutmainah, jamaah asal Kecamatan Kandangserang, yang akhirnya dapat menunaikan rukun Islam kelima setelah menunggu selama 14 tahun.
Saat tiba kembali di tanah air, Wirham mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar dan selamat.
“Alhamdulillah kami bisa menjalankan ibadah haji dari awal sampai akhir dalam keadaan selamat. Kami dapat melaksanakan rukun haji, wajib haji, dan sunnah-sunnah haji,” ujarnya.
Selain bersyukur atas kelancaran ibadah, Wahim juga menyampaikan apresiasi kepada para pembimbing haji dan rekan-rekan sesama jamaah yang telah saling mendukung selama berada di Tanah Suci.
Menurutnya, kebersamaan yang terjalin selama menjalankan ibadah menciptakan hubungan yang akrab dan penuh kekeluargaan. Bahkan, saat kembali ke Indonesia dan harus berpisah dengan sesama jamaah, muncul perasaan haru yang mendalam.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para pembimbing dan teman-teman yang selalu akrab, menyenangkan, dan menggembirakan. Saat kembali ke keluarga dan harus berpisah dengan teman-teman, rasanya berat,” katanya.
Wirham menuturkan, selama menjalankan ibadah haji para jamaah juga saling mendoakan agar seluruh rangkaian perjalanan berjalan lancar hingga kembali ke rumah masing-masing dengan selamat.
Ia berharap seluruh jamaah yang telah menunaikan ibadah haji memperoleh predikat haji mabrur dan hajjah mabruroh serta mampu mengamalkan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Tanah Suci dalam kehidupan sehari-hari.
Senin, 8 Juni 2026
Mewakili Plt. Bupati Pekalongan, Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, H. M. Yulian Akbar, S.Sos., M.Si., menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh jamaah yang telah kembali ke tanah air setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah dan Madinah.
Dalam sambutannya, Sekda mengungkapkan rasa syukur karena seluruh jamaah dapat kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Ia berharap seluruh jamaah memperoleh predikat haji yang mabrur serta mampu mempertahankan nilai-nilai ibadah yang telah diperoleh selama berada di Tanah Suci.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Pekalongan, kami mengucapkan selamat datang kembali kepada seluruh Jamaah Haji Kloter 13. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu dapat kembali dengan sehat dan selamat. Semoga seluruh amal ibadah yang telah dilaksanakan diterima oleh Allah SWT dan memperoleh predikat haji mabrur,” ujarnya.
Sekda menuturkan bahwa pengalaman spiritual selama menunaikan ibadah haji merupakan bekal berharga yang diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, jamaah haji memiliki peran penting sebagai teladan di tengah masyarakat melalui peningkatan keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial.
“Sepulang dari Tanah Suci, kami berharap Bapak dan Ibu dapat terus menjaga kemabruran haji dengan meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, serta menjadi contoh yang baik bagi keluarga maupun lingkungan sekitar,” katanya.
Lebih lanjut, Sekda menyampaikan bahwa kepulangan para jamaah haji menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Ia berharap kehadiran para jamaah dapat membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan daerah.
Pada kesempatan tersebut, Sekda juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Tak lupa, ia menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelayanan dan fasilitasi yang diberikan pemerintah sejak proses keberangkatan hingga pemulangan jamaah.
Acara penyambutan berlangsung penuh kehangatan dan rasa syukur. Raut bahagia tampak dari para jamaah serta keluarga yang telah menanti kepulangan mereka setelah menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci.
Dengan kepulangan Kloter 13 ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan berharap para jamaah haji dapat menjadi pribadi yang lebih baik, membawa semangat kebersamaan, serta turut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan sejahtera.
Senin, 8 Juni 2026
Penyambutan dilakukan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan, Dra. Hj. Siti Masruroh, M.Si., yang hadir mewakili Plt. Bupati Pekalongan.
Dalam sambutannya, Siti Masruroh menyampaikan rasa syukur atas kepulangan seluruh jamaah dalam keadaan sehat dan selamat setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Menurutnya, ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat.
“Semoga seluruh jamaah memperoleh haji yang mabrur. Kemabruran haji hendaknya dapat diwujudkan melalui peningkatan akhlakul karimah, semangat beribadah, serta kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Ia menambahkan, para jamaah haji merupakan orang-orang yang mendapat kesempatan istimewa untuk menunaikan rukun Islam kelima setelah melalui masa tunggu yang panjang. Oleh karena itu, jamaah diharapkan mampu menjadi teladan dan memberikan pengaruh positif di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji, seperti kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, dan kebersamaan, perlu terus dipelihara setelah kembali ke tanah air.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Pekalongan juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan pascaibadah haji. Mengingat rangkaian ibadah yang telah dijalani membutuhkan kondisi fisik yang prima, para jamaah diharapkan tetap memperhatikan kesehatan agar dapat kembali beraktivitas dengan baik bersama keluarga dan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Siti Masruroh juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari keberangkatan hingga kepulangan, masih terdapat kekurangan dalam pelayanan dan fasilitasi yang diberikan oleh pemerintah daerah.
“Kami menyampaikan terima kasih atas kerja sama seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Kami juga memohon doa dari para jamaah agar Pemerintah Kabupaten Pekalongan senantiasa diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan amanah melayani masyarakat,” tuturnya.
Suasana penyambutan berlangsung penuh kehangatan dan kebahagiaan. Tangis haru dan rasa syukur tampak mewarnai pertemuan kembali para jamaah dengan keluarga yang telah menanti kepulangan mereka dari Tanah Suci.
Melalui momentum tersebut, Pemerintah Kabupaten Pekalongan berharap para jamaah haji dapat menjadi agen perubahan dan penggerak kebaikan di lingkungan masing-masing, sehingga kemabruran haji tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Senin, 8 Juni 2026
Peringatan diawali dengan apel bersama yang diikuti unsur pemerintah daerah, pelajar, komunitas lingkungan, serta berbagai elemen masyarakat. Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon, penyerahan penghargaan Adiwiyata kepada sekolah berprestasi di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten, serta telekonferensi bersama Presiden Republik Indonesia.
Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, H. M. Yulian Akbar, S.Sos., M.Si, menyampaikan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan momentum penting untuk memperkuat kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam.
Menurutnya, upaya pelestarian lingkungan harus dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah, dan melakukan penghijauan di sekitar tempat tinggal.
“Lingkungan yang terjaga dengan baik akan memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kepedulian terhadap alam harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan lingkungan yang baik, khususnya di kawasan hulu, memiliki peran penting dalam mencegah berbagai dampak negatif seperti banjir, longsor, maupun penurunan kualitas lingkungan.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Drs. H. Abdul Munir, M.M., mengajak seluruh masyarakat untuk semakin meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dilestarikan.
Menurutnya, menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui berbagai aksi nyata, termasuk menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membiasakan membuang sampah pada tempatnya.
“Kesadaran menjaga lingkungan harus terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan lingkungan yang bersih dan lestari, kualitas hidup masyarakat juga akan semakin baik,” tuturnya.
Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan berharap dapat menumbuhkan semangat bersama untuk menjaga kelestarian alam serta mewariskan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Jumat, 5 Juni 2026
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan Sukirman menyampaikan hal tersebut usai mengikuti peluncuran Insersi Pendidikan Perkoperasian yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (5/6/2026).
Menurut Sukirman, pengenalan koperasi kepada siswa sejak jenjang SD hingga SMA dan madrasah merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang memahami tata kelola ekonomi berbasis kebersamaan dan gotong royong.
“Tujuannya agar anak-anak didik kita mulai dari SD, SMP, SMA, dan juga pendidikan di lingkungan Kementerian Agama memahami sejak dini tentang koperasi, kemudian terlibat aktif dalam proses perkoperasian,” katanya.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen pemerintah pusat untuk memperkuat sistem perkoperasian sebagai pilar ekonomi nasional. Melalui skema insersi, materi perkoperasian akan diintegrasikan ke dalam sejumlah mata pelajaran yang relevan, tanpa harus menjadi mata pelajaran baru.
Sukirman menilai langkah Jawa Tengah menjadi pionir memasukkan materi koperasi ke dalam sistem pendidikan merupakan terobosan penting di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Menurutnya, koperasi tidak hanya relevan sebagai lembaga ekonomi masa lalu, tetapi juga berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di masa depan.
“Koperasi merupakan akar pertumbuhan ekonomi kita dan soko guru perekonomian nasional. Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang memulai memasukkan kurikulum perkoperasian ke dalam sistem pendidikan siswa,” ujarnya.
Tak ingin program berhenti pada seremoni peluncuran, Pemkab Pekalongan berencana segera melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan, Dinas Koperasi, kepala sekolah, serta lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama untuk memastikan implementasi berjalan efektif.
Langkah tersebut dinilai penting karena sebagian besar sekolah sebenarnya telah memiliki koperasi sekolah. Namun, banyak di antaranya belum berfungsi optimal sebagai sarana pembelajaran praktik ekonomi bagi siswa.
“Otomatis tugas kita selanjutnya adalah mengonsolidasikan para kepala sekolah, Dinas Pendidikan, dan seterusnya untuk berkolaborasi dengan Dinas Koperasi agar penerapan praktik-praktik perkoperasian di sekolah bisa berjalan lebih maksimal,” jelas Sukirman.
Ia menambahkan, aktivasi kembali koperasi sekolah dapat menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik untuk memahami manajemen usaha, kepemimpinan, tanggung jawab organisasi, hingga pengelolaan keuangan secara langsung.
Sementara itu, Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menginisiasi pendidikan koperasi di lingkungan sekolah. Menurutnya, pemahaman tentang koperasi perlu ditanamkan kembali sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi agar generasi muda memahami peran strategis koperasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
Senada dengan itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menilai masih banyak pelajar yang belum memahami konsep koperasi secara utuh. Ia menegaskan koperasi bukan sekadar aktivitas simpan pinjam, melainkan juga mencakup pendidikan manajemen, kepemimpinan, dan pengelolaan kesejahteraan anggota.
“Koperasi itu bukan hanya simpan pinjam, tetapi juga ada manajemen, ada leadership, dan bagaimana mengelola kesejahteraan anggotanya. Ini harus dikenalkan sejak dini,” tegasnya.
Dengan dukungan pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, program Insersi Pendidikan Perkoperasian diharapkan tidak hanya melahirkan siswa yang mengenal koperasi secara teori, tetapi juga generasi yang siap membangun ekonomi kerakyatan melalui praktik dan pengalaman nyata di lingkungan sekolah maupun madrasah.
Jumat, 5 Juni 2026
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, Sukirman, yang hadir langsung menyaksikan partai puncak memberikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan turnamen yang berlangsung selama satu bulan tersebut. Menurutnya, Silirejo Cup tidak sekadar menjadi ajang mencari juara, tetapi juga menjadi wadah mempererat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat.
“Saya mengucapkan selamat kepada Ambokembang yang telah memenangkan kompetisi sebulan penuh. Selamat juga kepada Pangkah yang telah berupaya menembus final dan menjadi runner-up. Semuanya berkompetisi dengan penuh sportivitas. Ini menjadi kebanggaan kita bersama,” ujarnya.
Ia menilai semangat sportivitas yang ditunjukkan para pemain, ofisial, maupun suporter selama turnamen berlangsung menjadi modal penting dalam membangun iklim olahraga yang sehat di Kabupaten Pekalongan. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa kompetisi sepak bola tingkat desa mampu digelar secara tertib dan kondusif.
Sukirman juga memberikan penghargaan kepada panitia penyelenggara, Pemerintah Desa Silirejo, serta aparat keamanan yang telah mengawal jalannya pertandingan sejak babak awal hingga final. Berkat kerja sama seluruh pihak, turnamen dapat berlangsung aman dan jauh dari gangguan yang berpotensi mengganggu jalannya kompetisi.
“Seluruh panitia yang bekerja sudah sangat luar biasa. Kepada unsur keamanan juga kami sampaikan terima kasih karena kompetisi ini selama satu bulan penuh berjalan tertib, penuh kedamaian, dan penuh persaudaraan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan DPRD Kabupaten Pekalongan, Ahmad Ridhowi menyoroti dampak ekonomi yang muncul selama gelaran Silirejo Cup 2026. Ramainya penonton yang hadir setiap pertandingan dinilai turut menggerakkan aktivitas pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang makanan, minuman, hingga berbagai usaha lainnya di sekitar lokasi pertandingan.
“Dengan sepak bola ternyata tidak hanya membuat persaudaraan semakin erat, tetapi perekonomian juga tumbuh. Luar biasa perputaran keuangan yang kita lihat selama kompetisi Silirejo Cup 2026 ini,” terangnya.
Partai final sendiri berlangsung menarik dan mengundang antusiasme ribuan penonton, Kedua tim saling menampilkan permainan menyerang hingga pertandingan harus ditentukan melalui babak adu penalti.
Ambokembang FC akhirnya tampil lebih tenang dan memastikan kemenangan 6-5 atas Persepa FC.
Penutupan Silirejo Cup 2026.
Kesuksesan turnamen ini diharapkan menjadi motivasi bagi desa-desa lain untuk terus mengembangkan kompetisi olahraga yang mampu melahirkan bibit atlet sekaligus menggerakkan ekonomi masyaraka
Jumat, 5 Juni 2026
Deklarasi Kencana digelar di Aula Lantai I Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pekalongan, Rabu (3/6/2026), dan dihadiri unsur Forkopimda, DPRD, kepala perangkat daerah, camat, relawan kebencanaan, serta sejumlah narasumber dari pemerintah pusat dan provinsi.
Mewakili Plt. Bupati Pekalongan, Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, Yulian Akbar, menegaskan bahwa program tersebut tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Menurutnya, deklarasi harus diikuti peningkatan nyata dalam kesiapsiagaan dan respons penanganan bencana di lapangan.
"Kita tidak ingin ini hanya menjadi deklarasi seremonial belaka. Yang paling penting setelah Deklarasi Kecamatan Tangguh Bencana ini adalah pembuktian di lapangan. Harus ada perbedaan nyata dalam kesiapsiagaan kita," tegas Yulian.
Ia menilai penguatan peran kecamatan menjadi kebutuhan mendesak mengingat karakter geografis Kabupaten Pekalongan yang memiliki risiko bencana beragam. Wilayah pegunungan di bagian selatan rentan longsor, sementara kawasan pesisir menghadapi ancaman banjir rob yang terjadi secara berkala.
Data BPBD Kabupaten Pekalongan menunjukkan, sejak Januari hingga awal Juni 2026 telah terjadi 176 kejadian bencana alam yang didominasi bencana hidrometeorologi.
Kondisi tersebut menempatkan Kabupaten Pekalongan sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Jawa Tengah.
Untuk memperkuat sistem mitigasi, Pemkab Pekalongan akan menjadikan keberhasilan penanganan darurat di Kecamatan Petungkriyono pada Januari 2025 sebagai model penguatan kapasitas wilayah.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana memperluas jumlah Desa Tangguh Bencana (Destana) yang saat ini baru mencapai 18 desa.
Yulian juga mengingatkan seluruh camat agar mulai mengintegrasikan program ketangguhan bencana ke dalam perencanaan pembangunan tahun 2027.
Menurutnya, keterbatasan fiskal yang diperkirakan terjadi pada tahun mendatang menuntut penyusunan program yang lebih terukur dan memiliki dasar penganggaran yang jelas.
"Mengingat saat ini kita sedang dalam proses penyusunan RKPD 2027, nomenklatur dan akuntabilitas anggaran terkait ketangguhan bencana ini harus dipersiapkan dengan jelas," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan Agus Pranoto mengatakan deklarasi Kencana bertujuan membangun kesamaan persepsi bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tugas BPBD, melainkan tanggung jawab bersama seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat.
Menurut Agus, penguatan kecamatan menjadi kunci agar respons terhadap bencana dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan terpadu tanpa harus selalu menunggu intervensi dari tingkat kabupaten.
"Kami ingin menyamakan persepsi bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kecamatan harus memiliki kemampuan merespons bencana secara cepat sehingga penanganan menjadi lebih efektif," katanya.
Melalui deklarasi tersebut, Pemkab Pekalongan berharap kecamatan tidak hanya menjadi wilayah administratif, tetapi juga menjadi pusat koordinasi penanganan bencana yang mampu menggerakkan seluruh potensi masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks
Rabu, 3 Juni 2026